It's my world

Temper tantrum

babySekilas tentang temper tantrum… rangkuman artikel internet.

Apa temper tantrum itu?

Suatu kondisi emosional yang umum dialami oleh anak-anak usia 1-4 tahun, terjadi pada anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka akibat tidak terpenuhinya keinginan mereka, atau hanya sekedar ingin untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya saja.

Tantrum biasanya terjadi ketika anak-anak membentuk kesadaran diri. Balita belum cukup memahami kata “aku” dan “keinginan dirinya” tetapi sangat mudah untuk tahu bagaimana memuaskan apa yang diinginkan. Tantrum adalah hasil dari energi tinggi dan kemampuan yang tidak mencukupi dalam mengungkapkan keinginan atau kebutuhan “dalam bentuk kata-kata”.

Karakteristik : kemarahan luar biasa karena frustasi, dilanjutkan dengan menangis, berteriak, dan pergerakan badan yang berlebihan, termasuk melempar barang, menjatuhkan diri ke lantai, dan lain-lain.

Tantrum dianggap berbahaya jika tampil dalam bentuk perilaku agresif baik menyakiti orang lain ataupun diri sendiri dimana tak jarang hal tersebut malah menimbulkan masalah baru akibat kerusakan yang dihasilkannya.

Sebelum Anda benar-benar tersulut dengan ulah mereka, pahami dulu apa arti di balik tantrum yang dilakukan buah hati Anda.

  1. Sikap manipulatif. Tantrum jenis ini dicirikan  dengan perilaku menjengkelkan. Tentunya, harapan anak adalah untuk mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara mengamuk. Namun sebenarnya, itu hanyalah alat saja. Anak tak benar-benar marah atau kecewa karena tak mendapatkannya saat itu.
  2. Ungkapan kekesalan. Biasanya amukan terjadi ketika anak merasa tak bisa melakukan atau mendapat sesuatu seperti keinginannya.
  3. Periksa apakah lapar, sakit atau sedang mengantuk. Anak-anak cenderung mudah marah karena mereka lapar, sakit, mengantuk. Mempelajari penyebab ini tentunya butuh observasi selama beberapa minggu, tidak bisa hanya sehari atau 2 hari saja. Buat catatan-catatan perilaku keseharian anak, dan kemudian pelajarilah catatan tersebut.

Hal yang bisa dilakukan:

Tetapkan aturan dasar
Jika menghadapi anak yang sedang tantrum, pertama-tama Anda jangan terpancing dengan suasana. Tetaplah dengan sikap dan intonasi suara Anda yang tenang. Ketika anak terus berteriak, katakan, “Ayo bicara yang baik sama mama…”. Atau, pergilah ke ruang lain sembari berkata “Kalau sudah bisa bicara yang baik, mama akan ajak kamu bermain…”.  Setelah anak menyadari jika amarah mereka tak mempan, sikapnya akan melunak dengan sendirinya. Jika Anda memang tidak ingin mengabulkan keinginan anak, tetaplah teguh pada pendirian dan jangan ‘terjebak’.  Bila Anda luluh, akan semakin menguatkan pemahaman anak bahwa Anda mudah dipermainkan.

Tunjukkan empati
Ketika ledakan emosi anak memuncak, alih-alih ikut tersulut segeralah tanyakan dalam benak sendiri, “Jika saya berada di posisi Si Kecil, apakah yang saya ingin agar ibu saya lakukan?” Empati yang Anda upayakan ini akan menjadi usaha yang tepat untuk mendapatkan respons positif dari Si Kecil. Ini karena anak yang tengah di luar kendali membutuhkan respons positif orang dewasa yang masih memegang kendali.

Time out
Jika tantrum terjadi di tempat umum seperti supermarket, ajak anak menyingkir dengan membawanya ke mobil. Di sana, suguhi anak alunan musik, dan beri kata-kata yang menenangkan. Sikap Anda akan memberinya dua pesan: amukan tak akan memberikan apa yang diinginkan, dan ibunya akan menolong dirinya mengatasi kekesalan tersebut.

Beberapa anak biasanya bersikeras tak melepaskan kebiasaan menjerit dan berteriak saat melempar tantrum. Saran saja, buat aturan “hanya boleh berteriak di luar ruangan”. Jadi, saat anak mulai berteriak, ajak anak keluar dan biarkan ia melakukannya di luar.

Ubah persoalan jadi peluang
Saat anak mulai tantrum, sebenarnya ini juga peluang bagi para orangtua untuk membangun hubungan orangtua-anak. Melalui penyelesaian kemarahan, anak belajar jika orangtua merupakan tempat mengadu dan mendapatkan solusi atas permasalahannya. Ini juga menjadi dasar dari komunikasi berlandaskan kepercayaan antara orangtua-anak sehingga di lain waktu anak akan lebih mudah mengekspresikan atau mengutarakan apa yang dipikirkannya ketimbang melempar tantrum.

Langkah yg diambil saat tantrum terjadi:

  1. Pegang anak erat-erat (tangan dan kaki) hingga dia tak dapat memukul/menendang dan melakukan hal berbahaya lain.
  2. Jangan ajak anak berkomunikasi hingga anak selesai dengn usahanya untuk memberontak (hal ini termasuk jangan berteriak untuk menyuruh anak berhenti).
  3. Dalam waktu 15-20 menit maka rata2 anak akan merasa letih dan berangsur tenang. Saat itulah anak dapat diajak berbicara.
  4. Jelaskan mengapa kita memegangnya erat2 dan mengapa kita tidak memenuhi permintaannya.
  5. Ajarkan anak bagaimana lain kali ia dapat menunjukkan kemarahannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: