It's my world

Kista Periapikal

gr1-sml

Contoh Kista 

Siapa yang suka sakit gigi? Atau bahkan ditemukan adanya kista di mulut? Kayaknya ga ada yang seneng sakit gigi, apalagi didiagnosa kista di bagian mulut. Tapi kalau sudah terlanjur, mau apalagi?

Dari sejak kecil saya sudah berteman akrab dengan dokter gigi. Kenapa? Karena gigi saya sering berlubang. Kenapa gigi saya berlubang? Salah satunya, tidak suka gosok gigi. Salah duanya, suka makanan manis. Salah tiganya, dulu saya minum sufor pake dot sampai umur 5 tahun. Sampai sekarang gigi saya agak maju kedepan, agak kuning, rapuh dan ga sempurna pengunyahannya. Makanya, saya keukeuh banget ga mau ngasih sufor dan dot buat anak saya. Makanya, saya bawel supaya anak-anak sikat gigi. (Dengan gigi seperti itu bukan berarti saya minder lhoo.. pernah sih melalui fase minder, tapi sekarang enggak lagi. Mau tau caranya? Hehehehe.. smoga kapan-kapan bisa nulis tentang membangun Percaya Diri)

Jadi, balik lagi.. setelah sekian lama saya menghindar dari dokter gigi (setelah kuliah, menikah, punya anak dua). Berharap ga ada masalah lagi sama gigi saya, eh.. ga taunya saya diberi ujian dan kesempatan buat akrab lagi sama dokter gigi. Akrab yang pertama adalah ke drg spesialis konservasi gigi karena saya harus pasang crown gigi. Akrab yang kedua adalah ke drg spesialis konservasi gigi dan bedah mulut karena diagnosis awal adalah abses gigi kemudian berkembang menjadi kista.

Gimana sih kok bisa ada kista di bagian mulut? Padahal banyak orang hanya tahu bahwa kista ada di rahim atau organ dalam lainnya. Kista yang saya alami adalah kista periapikal, yaitu kista yang terbentuk pada ujung akar gigi yang jaringan pulpanya (sarafnya) sudah mati, yang merupakan kelanjutan dari peradangan pada jaringan pulpa gigi (pulpitis).

Penyebab*
Kista periapikal merupakan perkembangan lebih lanjut dari infeksi gigi karena caries (gigi berlubang). Apabila gigi yang berlubang dibiarkan terus menerus, maka akan menyebabkan peradangan pada jaringan pulpa gigi (pulpitis) kemudian terjadi kematian saraf pada gigi tersebut. Setelah gigi nonvital (mati) lama kelamaan akan dapat terbentuk kista periapikal pada ujung akar gigi tersebut.

Gejala*
Kista periapikal umumnya tidak menimbulkan keluhan atau rasa sakit, kecuali jika terjadi infeksi pada kista tersebut (infeksi sekunder).

Perawatan*
Terdapat beberapa pilihan perawatan pada kista ini, antara lain:

1. Perawatan endodontik (perawatan saraf gigi)
Apabila kista yang terbentuk belum terlalu besar atau belum parah, masih dapat dilakukan perawatan endodontik. Jika perawatan ini dilakukan, maka perlu dilakukan rontgen gigi secara periodik untuk mengecek penyembuhan dari kista tersebut.

2. Pengambilan kista
Perawatan ini paling sering dilakukan untuk menangani kista periapikal, karena apabila dengan perawatan endodontik penyembuhannya belum tentu berhasil. Pengambilan kista ini kadang juga disertai pengambilan gigi yang terlibat.

Berdasarkan keterangan tersebut, kista yang saya alami jelas karena gigi berlubang. Saya sudah mengalami infeksi sekunder yang rasa nyut-nyutan bisa membuat ga bisa tidur semalaman. Awalnya saya ke drg konservasi utk perawatan saraf gigi, tapi sepertinya tidak mengecil. Jadi harus dioperasi.

Hanya saja, saya perlu bersyukur tidak perlu cabut gigi. Kebetulan gigi yang terkena kista adalah gigi depan dan drg. bedah mulutnya mau mencarikan alternatif supaya tidak perlu cabut gigi.

Operasi yang dilakukan sebenarnya operasi kecil dan perlu dilakukan bius total agar pasien lebih tenang. Hanya saja waktu saya mau operasi, dokter anastesinya sedang berhalangan. Jadi akhirnya, hanya bius lokal. Rasanya takut dan khawatir selama operasi karena ngerasain disuntik, denger bagaimana rahang atas dibedah, disedot nanahnya, diberi tulang sintetis, dan dijahit kembali. Bahkan ketika disedot nanahnya, bius lokal tidak bisa mengurangi rasa sakitnya. Mungkin kenapa akan jauh lebih baik jika bius total.

Sisi baiknya tidak bius total adalah saya tidak perlu menunggu waktu sadar. Karena setelah selesai operasi, saya bisa langsung makan minum dan pulang ke rumah. Paling nyut-nyutan sedikit yang bisa dibantu dengan obat pengurang nyeri. Setelah itu minum antibiotik.

Hari ini, jahitan di rahang atas diambil. Alhamdulillah tidak ada masalah yang berarti dan tidak sakit lagi. Saya janji ke drg. lebih sering buat kontrol gigi dan menjaga kebersihan gigi saya supaya tetap kuat sampai akhir usia.

 

Sumber *: MayoClinic, West Indian Medical Journal, Journal of Medical

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: