It's my world

Memilih sekolah

thK9DRBIHITiap keluarga memiliki nilai-nilai yang berbeda untuk mengasuh anak, termasuk memilih sekolah yang terbaik untuk anak. Saya beri garis bawah untuk sekolah terbaik karena satu sekolah belum tentu sesuai untuk semua keluarga. Kesesuaian bisa dilihat dari biaya sekolah, lokasi, nilai-nilai yang ditanamkan, metode pengajaran, pengaturan jumlah guru, manajemen sekolah, dan lain-lain. Apapun pilihan sekolahnya, saya yakin orang tua berusaha mencari sekolah dengan nilai-nilai yang positif sesuai kondisi keluarga.

Saya sendiri berusaha memilihkan sekolah yang terbaik untuk anak saya. Namun sebelumnya mungkin ada pertanyaan, kenapa tidak homeschooling saja? Meski saya sudah mengikuti seminar homeschooling, saya sendiri masih belum bisa berkomitmen untuk homeschooling, saya masih memilih sekolah sebagai partner mendidik anak. Akhirnya anak saya yang pertama bertahan tidak masuk sekolah hingga usia 4 tahun, dari target usia 5 tahun baru akan sekolah. Berdasarkan usia, ia masuk TK. Mungkin ada pertanyaan lainnya, mengapa tidak masuk Kelompok Bermain atau play group? Kembali lagi karena targetnya tidak sekolah hingga usia 5 tahun. Hehehe.

Menurut teori-teori Psikologi, 5 tahun pertama kehidupan anak adalah masa paling berharga. Masa dimana orang tua perlu memasukkan banyak nilai kebaikan. Masa dimana orang tua perlu memberi landasan dan menjalin kedekatan dengan anak. Jika anak sudah masuk sekolah, maka nilai-nilai lingkungan akan lebih cepat masuk. Jika nilai-nilai lingkungannya bagus sih tidak apa-apa. Jika nilai-nilai di lingkungan sekitar lebih banyak yang buruk, saya secara pribadi akan memilih menunda untuk sekolah. Lagi pula, sekolah untuk anak balita biasanya lebih banyak penanaman kemandirian. Hal yang bisa dilakukan oleh ibunya di rumah. Bagaimana dengan sosialisasi? Saya tidak begitu khawatir dengan sosialisasi karena bergabung dengan komunitas dan memiliki tetangga yang punya anak kecil.

Kembali lagi ke pilihan sekolah, hal-hal apa yang saya perhatikan ketika menyekolahkan anak. Pertama, aspek agama. Kembali lagi, aspek pertama ini adalah kesepakatan suami-istri atau orang tua. Dengan latar belakang suami yang pernah sekolah di pesantren, ia memiliki alasan yang lebih besar untuk memasukkan anaknya ke sekolah Islam. Lalu, alasan saya apa? Saya ingin anak saya sejak kecil sudah terbiasa dengan nilai-nilai Islam. Berbeda dengan saya yang dibesarkan dalam suasana heterogen dan baru intens belajar Islam ketika SMA. Tentu lebih sulit belajar ketika sudah besar, jika dibandingkan sejak dini.

Lalu hal kedua yang saya pertimbangkan adalah metode pembelajaran. Saya memiliki pengalaman traumatis dengan sistem pendidikan di Indonesia yang menentukan anak pintar atau tidak dari kemampuan membaca, menghapal, dan berhitung. Karena saya dulu sekolah dalam usia yang terlalu muda, yaitu 3 tahun, saya menjadi malas belajar ketika SD, SMP dan SMA. Entah bagaimana saya bisa melalui hari demi hari untuk pergi sekolah. Karena saya memang tidak berminat untuk sekolah, terutama pelajaran IPA dan Matematika. Beberapa kali ditegur guru karena tampak tidak fokus belajar. Saya baru termotivasi untuk belajar ketika mau masuk perguruan tinggi dan tentu selama kuliah. Menurut saya, kuliah adalah waktu dimana saya benar-benar menikmati belajar. Oleh karena itu, saya tidak mau hal yang sama terulang pada anak. Saya ingin ia bisa menikmati sekolah sejak dini. Kalaupun nanti ada hal tidak menyenangkan, setidaknya tidak terjadi pada usia dini. Saya ingin anak saya bisa menikmati pelajaran sains dan matematika karena sebenarnya hal tersebut bisa saja jadi menarik jika diberikan dengan cara yang menarik pula. Saya juga tidak ingin anak saya dianggap baru belajar jika sudah masuk kamar, duduk di kursi dan buka buku. Karena belajar bisa dilakukan sambil bermain dan melakukan eksperimen. Kemudian, anak yang pintar dan sukses di sekolah belum tentu bisa sukses di dunia kerja atau usaha. Saya tidak ingin anak saya dinilai dari nilai akademik saja. Karena hal yang tampil pada anak-anak saya, mereka memiliki kreativitas dan tampak aktif bersosialisasi.

Aspek ketiga adalah biaya sekolah. Biaya sekolah terutama sekolah Islam biasanya agak mahal jika dibandingkan dengan sekolah yang di subsidi pemerintah. Perlu disadari biaya sekolah mahal juga tidak menjamin anak sukses. Karena suksesnya anak adalah kerja sama orang tua dan sekolah. Jadi mengapa saya berani bayar mahal? Kembali lagi ke nilai-nilai yang ingin saya tanamkan pada anak. Di tengah kepungan informasi dan lingkungan yang kurang kondusif saat ini, saya berusaha mencari lingkungan yang kondusif bagi anak saya. Kalaupun saya tidak bekerja dan tidak memiliki banyak biaya, saya tetap mencarikan lingkungan yang kondusif bagaimanapun caranya.

Lokasi adalah hal keempat yang menjadi pertimbangan. Saya dan suami berusaha mengantar-menjemput anak sendiri. Jadi, tentu kami memilih yang paling dekat dan minim hambatan. Kebetulan sekolah anak saya saat ini satu arah dengan kantor suami, jadi pagi diantar suami. Saya bisa saja memakai jemputan, tetapi ada kepuasan tersendiri jika bisa menjemput anak.

Keamanan adalah hal kelima dan kenyamanan adalah hal terakhir yang perlu saya pertimbangkan untuk memasukkan sekolah anak. Alhamdulillah, sekolah anak saya memikirkan tentang keamanan seorang anak, mulai dari diantar hingga dijemput kembali oleh orang tua. Kenyamanan dalam aspek ini bukan berarti sekolah yang ber AC atau anak-anak yang dimanjakan. Akan tetapi, kenyamanan dengan lingkungan sekolah yang rindang, banyak pohon. Dekat dengan para guru dan satpam. Dekat juga dengan orang tua murid yang lain. Saya tidak masalah jika ada parenting untuk orang tua atau ada tugas untuk orang tua, karena dari sana saya belajar menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: