It's my world

Balikpapan.. kubangun, kujaga, kubela. Kalau saja dulu saya tidak lahir di kota ini, mungkin saya sudah sangat sering pulang ke Jawa. Bagaimana mungkin di tahun 2016, Balikpapan masih suka mati lampu dan mati air.

Dua hingga tiga tahun pertama ikut suami pindah ke Balikpapan, mati lampu adalah hal yang membuat saya cemas. Cemas karena tidak bisa charge HP😀. Pokoknya panik luar biasa kalo udah mati lampu. Bawaannya pengen pergi ke mol karena di sana bisa charge HP dan tidak perlu gelap-gelapan. Tiap menit up date status mati lampu. Kalau mati lampu lebih dari 12 jam, nginep di hotel (maklum rada manja). Pokoknya melakukan berbagai cara supaya tidak kena mati lampu. Sekarang? Sudah lewatlah.. Alhamdulillah, mati lampu mendewasakan saya bahwa saya tidak akan selalu berada di tempat yang nyaman, seperti di Jawa. Paling banter kalau mati lampu, ya jalan-jalan aja keliling kota sama anak-anak. Kalau enggak, buka jedela.. kipas-kipas sambil kelonan sama anak-anak. Paling ngomel-ngomel dikit.. Hehehe. 

Ujian saya di tahun ke empat tinggal di Balikpapan adalah mati air. Kebetulan diberi rejeki untuk pindah di rumah yang lebih besar. Tetapi penyakitnya adalah sering mati air, disamping mati lampu tengah malam (tetep ya). Pertama kali mati air 24 jam, kemudian 48 jam, sekarang akhirnya 72 jam atau sekitar 3 hari. Mungkin cuma saya yang merasa paling sengsara di dunia. Namun kalau saya baca komplain warga Balikpapan di akun pemerintah atau PDAM, ada warga yang air mengalir hanya sekali dalam sebulan karena distribusi air tidak merata.

Sebagai warga Balikpapan yang lahir di Balikpapan dan punya KTP Balikpapan, saya tentu kecewa. Mengapa tidak nampak pencegahan adanya mati air. Kalaupun sudah terjadi bagaimana penanggulangannya? Apakah harus menunggu Jokowi datang, baru beres? Padahal Balikpapan adalah kota penghasil energi dan kota yang katanya mendapat predikat paling nyaman. Namun masalah air tidak terselesaikan. Waduk yang ada hanya waduk tadah hujan, yang kalau melihat cuaca saat ini yang sudah kacau balau, rasanya miris sekali.

Empat tahun yang lalu, Balikpapan masih adem. Tiap minggu hujan karena masih banyak hutan tropis. Sekarang? Semua sudah disulap menjadi perumahan dan ruko. Padahal banyak juga yang membangun rumah dan ruko, tetapi tidak ada yang menempati. Akhirnya, rusak sendiri. Sedih.

Sedih juga ketika akhirnya saya berada pada posisi menggunakan air hujan supaya mengurangi penggunaan air waduk. Lumayanlah setetes dua tetes kalau dikumpul jadi sebaskom. Di samping kesedihan saya itu, saya berusaha untuk menguatkan diri dan banyak bersyukur bahwa saya masih diberi keberuntungan. Beruntung air masih mengalir selama empat dari tujuh hari karena rumah beda beberapa kilometer dari waduk. Beruntung saya memiliki rejeki untuk beli tandon besar untuk bertahan selama mati air. Beruntung karena hujan mulai membasahi daerah rumah saya sehingga saya bisa membuka tutup tandon dan mengisi dengan air hujan. Namun bagaimana dengan warga yang lain? Semoga masalah air ini segera berakhir. Entah dengan hujan yang terus menerus selama 6 bulan atau pemerintah memutar otak untuk menyegerakan pembuatan waduk baru dan destilasi air laut.

Quote of the day : “Balikpapan adalah kota dimana saya lebih menghargai adanya listrik yang menyala dan air yang mengalir. Menghargai hujan karena bisa menampung air tanpa perlu membayar. Alhamdulillah..”

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: