It's my world

Menjadi ibu berarti…

Saya ibu dengan dua anak, Sabrina (4 thn) dan Fathan (22 bulan). Keduanya adalah permata hati saya, meski terkadang saya sering berkeras hati dan berlaku sebaliknya. Keduanya dilahirkan dengan jarak yang tidak berbeda jauh 2 tahun 3 bulan. Keduanya mewarisi sifat, kebiasaan, dan ciri fisik saya dan suami.

Saya bersyukur memiliki keduanya, tapi saya harus mengakui bahwa keduanya juga merupakan ujian bagi saya dan suami. Kami berdua belajar tentang pengasuhan anak dengan cara masing-masing. Kebetulan suami pernah bergerak di komunitas pengasuhan anak, saya sendiri belajar tentang psikologi. Kami juga beberapa kali berdiskusi tentang pengasuhan anak sebelum dan sesudah menikah. Kami berdua tampak siap kan memiliki anak? Sepertinya begitu. Sampai pada prakteknya, kami menghadapi sendiri kedua anak kami.

Challenging a.k.a menantang ketika menghadapi dua anak kami. Anak saya yang pertama lahir pada bulan Maret 2011, anak ini dari awalnya memang sudah memberi tantangan pada saya. Satu hal yang paling menarik pada anak ini, yaitu keras kepala. Memang keras kepala ini memang menurun pada keluarga kami, sampai saya menyadari betapa sulitnya ibu saya menghadapi saya dulu waktu kecil. Tapi, hei… keras kepala itu bermanfaat saat saya dewasa. Begitu pula dengan suami saya, tidak jauh keras kepala seperti saya. Hingga kami suka berdebat meski sampai tahap tertentu kami yakin bahwa kami memang tidak terpisahkan.

Anak kedua kami lahir pada bulan Juni 2013. Anak ini sejak awal tampak kalem. Saya berharap banyak padanya agar tidak seperti kakaknya yang keras kepala. But hey.. setelah 15 bulan, anggapan saya musnah. Dia tampil hampir menyerupai kakaknya, yaitu keras kepala. Dan saya akhirnya memiliki 2 anak dengan ciri keras kepala. Kalau sudah ada maunya, ngotot sampai ke ubun-ubun.

Saya sering pada tahap lelah, bosan, kesal, kecewa dan marah. Akan tetapi kekesalan tersebut akhirnya berkurang juga ketika mereka bisa bermain bersama atau berperilaku menyenangkan. Saya kadang berpikir apakah kedua anak ini adalah ujian bagi saya, sepertinya bagitu.. disamping anugrah, mereka adalah ujian bagi saya.

Saya sering melakukan kesalahan, terkadang saya mengulangi kesalahan saya. Kadang saya merasa tidak pantas menjadi seorang ibu. Tetapi anggapan-anggapan itu tidak menyelesaikan masalah, dua anak itu tetap ada untuk diarahkan dan dibimbing agar bisa menjadi lebih baik, saya harap begitu. Saya orang yang perfeksionis hingga tahap tertentu, namun saya belajar untuk menurunkan tingkat perfeksionis saya. Belajar untuk kecewa dan ada hal-hal yang berjalan tidak sesuai rencana.

Seseorang yang bijak pernah berkata, “Kita tidak akan pernah belajar jika tidak membuat kesalahan.” Saya masih berharap banyak dari kalimat tersebut. Saya banyak melakukan kesalahan, tapi saya berharap bisa belajar hal baru dan meminimalisir kesalahan saya.

Mereka permata hati saya, secara logika saya tidak mungkin benar-benar berniat untuk menyakiti mereka. Meski terkadang terjadi yang sebaliknya. Multitasking pekerjaan rumah, kerja kantor yang dibawa ke rumah, dan mengurusi dua anak yang belum sekolah tidaklah mudah. Belum lagi mengurusi suami yang terkadang perlu juga didengarkan keinginannya. Belum lagi kalau saya sedang sakit.. Rasanya ingin menjadi tidak peduli dengan semuanya. Cobalah sendiri sebelum berkata-kata🙂

Saya tau banyak teori tentang pengasuhan anak, dan itu tidak banyak membantu untuk mengasuh anak-anak saya. Sebaliknya, saya malah terbebani oleh teori-teori tersebut. Kok saya tidak bisa seperti itu.

Pengasuhan anak seharusnya menyenangkan, bukan membebani. Jadi yang saya bisa lakukan adalah menjadi menyenangkan ketika berhadapan dengan mereka. Lupakan tentang pekerjaan-pekerjaan, meski rumah berantakan, baju belum dicuci dan setrika, piring kotor menumpuk dan lain sebagainya. Mereka hanya ingin ibu yang menyenangkan. Mereka tidak peduli dengan rumah yang berantakan, mereka tidak peduli siapa ibunya ketika di luar rumah, mereka tidak peduli berapa banyak uang yang dimiliki ibunya asal mereka merasa senang dan bahagia.

Menjadi ibu itu tidak mudah dan tidak pernah mudah. Makanya surga ada di bawah kaki ibu. Kadang kalau sudah tidak kuat, di dalam hati saya hanya bisa meminta pertolongan Allah SWT. Mohon ampun atas kesalahan dan kesombongan saya. Mereka tidak meminta apa-apa hanya ingin ibu yang menyenangkan dan bisa diajak bermain bersama.

Menjadi ibu itu berarti menekan ego dan keinginan kita untuk beberapa waktu. Seseorang guru saya mengatakan, masa kanak-kanak itu hanya sebentar. Tidak akan lama. Pada masanya nanti mereka juga akan besar dan tidak lagi ada di sekitar kita. Percayalah tidak akan lama.

Menjadi ibu itu berarti belajar menjadi dewasa. Menjadi tua itu pasti, tapi belum tentu menjadi dewasa. Tidak lagi banyak bergantung pada orang lain. Belajar mengelola emosi, tindakan, dan perkataan kita. Saya banyak belajar dari anak-anak saya.

Menjadi ibu itu berarti perlu lebih banyak berdoa. Bukan apa-apa, kadang kalau sudah lelah dan tidak ada perubahan perilaku anak. Tidak ada daya upaya selain pada Allah SWT. Cobalah berdoa.. jika belum terkabul, cobalah lagi dan lagi. Seorang ibu ada, salah satunya karena kekuatan doanya.

Jadi, tetaplah belajar, berusaha dan melakukan evaluasi diri. Kita sebagai ibu pernah melakukan kesalahan. Hal yang perlu dilakukan adalah memperbaiki diri. Jika tidak mampu sendiri, carilah sekelompok ibu-ibu lain untuk berbagi. Jika masih tidak mampu, bisa meminta bantuan psikolog setempat untuk membantu. Karena membesarkan anak bukan hanya tanggung jawab seorang ibu, perlu ada bantuan ayah, keluarga dan lingkungan.

Selamat mencoba..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: