It's my world

Alergi oh alergi..

Rasanya kadang sedih dan kecewa ketika anak memiliki riwayat penyakit tertentu. Terkadang marah pada diri sendiri, apalagi jika tahu salah satu sumber penyebabnya adalah kita sendiri.

Kedua anak saya punya riwayat alergi. Berdasarkan literatur yang saya baca, alergi memang diturunkan. Saya tidak punya riwayat alergi. Ketika saya bertanya pada suami, suami memang memiliki alergi dingin tetapi ketika ia kecil. Sekarang sudah jauh berkurang.

Tampilan alergi anak saya yang pertama dalam bentuk “geographic tounge”, yaitu dimana muncul putih-putih berbentuk pulau pada lidah. Tampilan ini biasanya muncul kalau Sabrina lagi batuk dan pilek. Sedangkan tampilan alergi Fathan dalam bentuk bentol di kulit.

Awalnya, saya tidak tahu kalau Fathan memiliki riwayat alergi. Ketika ia berusia 5 bulan, timbul bentol2 yang berisi air pada kaki, tangan dan wajah. Kami panik. Kami kira Fathan terkena virus di suatu tempat. Kami kira Fathan terkena hand and mouth disease atau mungkin juga cacar air. Kami bawa ke dokter dan menurut dokter itu virus, tetapi tidak tahu virus apa. Meski begitu, saya masih sangsi dengan diagnosis itu karena Fathan tidak mengalami demam.

Kami sempat berpergian dengan kondisi Fathan yang bentol-bentol. Kami sadar banyak orang yang melihat Fathan, mungkin dikira sakit cacar atau kulit. Rasanya kasihan melihat Fathan. Hal yang membuat saya tetap optimis adalah Fathan tidak terlihat lemas. Ia masih tampak aktif.

Seminggu kemudian, bentol tidak mereda. Akhirnya, kami pergi ke dokter lagi. Dokter yang kedua menyatakan diagnosis terdapat virus sudah tidak mungkin krn sudah lebih dari seminggu. Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, dokter menyatakan bahwa Fathan memiliki alergi. Tidak tahu alergi apa sehingga harus saya harus diet beberapa makanan. Tampilan alergi Fathan sudah cukup parah karena sampai bentol berair.

Pada saat itu, saya merasa gelisah dan bingung. Fathan memang masih ASI ekslusif, tidak diberi makanan/minuman lain selain ASI. Saya pun mencoba diet berbagai makanan sekitar dua minggu. Akan tetapi, tidak banyak perubahan.

Kami pun pergi ke sebuah klinik yang disarankan oleh kawan kami. Anaknya juga mengalami alergi dan telah menjalani tes alergi berikut terapinya. Karena sudah desperate dan membutuhkan solusi, kami mengikuti saran teman.

Di sana Fathan yang berusia 5 bulan menjalani tes alergi. Eng.. ing.. eng.. hasilnya adalah Fathan alergi MSG. Rasanya dunia terasa hancur lebur. Saya memang sering makan di luar rumah dimana sumber makanan berMSG berada. Jarang sekali makanan di restoran/tempat makan yang tidak ber MSG. Bahkan bahan makanan kita yang ada di rumah tidak lepas dari MSG.

Berikut ini beberapa contoh bahan makanan yang biasanya mengandung MSG:

1. Saos
Saos tomat, sambal, tiram, dsb dari pabrik biasanya berMSG. Coba deh lihat dan cek kemasannya. Kecuali kita membuatnya sendiri.

2. Kecap
Kecap juga bisa ber MSG lhooo.. kecuali ada beberapa merek yang pernah saya lihat.

3. Sosis
Sosis non MSG ada.. tapi jarang dan tidak dijual di supermarket.

4. Kornet
Saya paling suka kornet. Mudah dimasak dan enak. Akhirnya saya berhenti konsumsi karena Fathan alergi.

5. Bakso
Suka bakso? Tentunya.. mungkin salah satu makanan fav orang Indonesia adalah bakso. Tapi sudah tau kan kalo bakso kebanyakan berMSG? Apalagi kalau kita beli di kaki lima. Ditambah mie ayam dan kuahnya.. cobalah cita rasa MSGnya.

6. Berbagai gorengan
Termasuk tahu fantasi, risol, pastel, sosis solo, dsb biasanya menggunakan MSG. Gimana saya enggak sedih? Ini makanan fav saya kalau sedang menyusui.

Intinya, saya akhirnya banyak mengurangi makan di luar. Tidak makan burger karena ada saos dan mayo yang berMSG. Tidak makan pasta. Tidak makan bebek goreng, martabak, nasi kuning, nasi uduk, dll karena pasti ada MSGnya. Selama beberapa minggu saya hanya makan sate, roti bakar, sushi, gado-gado atau pecel.

Fathan pernah berkurang alerginya dengan minum air zamzam. Selama beberapa bulan saya bisa kembali makan di luar dengan “cukup normal”. Akan tetapi, akhir-akhir ini alerginya kembali muncul. Maklum lagi mudik dan Idul Fitri, rasanya tidak ingin melewatkan momen tanpa makan. Akhirnya, saya harus mengurangi kembali makan di luar.

Bukannya saya sombong atau bagaimana jika ditawari makanan enak yang dibeli di luar atau diajak makan di kaki lima. Saya memang harus mengurangi makan makanan berMSG. Dampaknya jika saya makan di luar, Fathan akan bentol dan gatal. Saya pun tidak bisa tidur di malam hari karena Fathan suka garuk2. Kasian sekali…😦

Saya berharap suatu saat Fathan berkurang alerginya, bahkan menghilang. Saya memikirkan kalau Fathan tidak bisa makan di luar seumur hidupnya. Walaupun saya mengakui bahwa saya sedang diuji dan diingatkan utk perlu lebih sehat dalam memilih makanan. Alergi ini membuat saya berpikir dua kali kalau mau makan di luar. Alergi ini seperti batasan yang mengingatkan bahwa “Hei, kamu sudah terlalu banyak makan makanan enak” yang berarti bisa memicu diabetes, hipertensi, dsb. Selain itu, “ingatlah kamu hidup bukan hanya saat ini”. Jadi, hiduplah dengan lebih sehat.

Oh iya, adanya alergi ini bukan berarti kita menghentikan pemberian ASI dan mengganti dengan sufor lho ya. Saya tidak mau terjebak dengan pemikiran itu. Saya berpikir bahwa ASI tetap akan memberikan manfaat lebih banyak bagi anak saya, daripada menghentikan ASI agar anak tidak alergi. Alhamdulillah, Fathan hingga kini tidak pernah sakit parah. Bahkan selama setahun, Fathan hanya demam 3-4 kali.

Untuk artikel tentang penanganan bayi ASI yang terkena alergi bisa dilihat di sini

Semoga Fathan berkurang alerginya ya.. biar tambah bersih dan ganteng🙂 Bunda sayang Fathan.

image

Comments on: "Alergi oh alergi.." (4)

  1. Ibu, boleh minta kontak/emailnya untuk keperluan wawancara?
    Terima Kasih🙂

  2. ibu raya raka said:

    Mb di rs mn mb melakukan tes alergi? Dan brp biaya yg dikeluarkan? Anak sy skrg sedang mengalami alergi spt fathan. Sy penasaran ingin tahu anak sy alergi apa. Sy lokasi di smrd mb. Ada dokter yg bs direkomendasikan di smrd?

    • Saya cek di siloam.. untuk biaya, saya kurang tau karena dibayar asuransi perusahaan. Coba tanya ke dokter spesialis anak di samarinda. Saya sendiri kurang familiar kalau di samarinda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: