It's my world

Akhir-akhir ini, pemerhati masalah anak banyak membahas tentang “Fatherless Country”, yaitu keadaan di sebuah negara dimana sang ayah ada secara fisik, tetapi tidak hadir secara psikologis.Telah ada komunitas yang dibentuk dan berbagai seminar diselenggarakan untuk mendukung peran ayah yang lebih besar dalam keluarga. Pertanyaan terbesar saat ini, apakah sosok ayah telah mendapatkan peran di dalam keluarga kita sendiri?

Mulai dari pencarian pasangan hidup

Ada atau tidaknya peran ayah dalam pengasuhan anak, sebenarnya ditentukan jauh sebelum anak lahir. Pasangan yang akan menikah sebaiknya membahas dan menentukan peran mereka dalam pengasuhan anak. Pihak laki-laki yang akan bertindak sebagai ayah perlu memiliki tujuan dan pandangan tentang bagaimana calon anak akan diasuh. Semakin jelas gambaran dan hal-hal yang ingin dilakukan oleh calon ayah pada anaknya mampu memberi kesan bahwa ia akan mengambil lebih banyak peran ketika anaknya telah lahir.    

Bahkan tidak perlu menunggu anak lahir, seorang laki-laki telah dapat mengambil peran ayah yaitu ketika anaknya dalam kandungan. Bagaimana ia begitu bersemangat untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Bagaimana ia melindungi istrinya yang sedang hamil. Bagaimana ia berinteraksi dan mendidik calon anaknya yang berada dalam kandungan dengan cara mengajak bicara atau mengelus perut ibu. Ketika anak telah lahir, ayah dapat berbagi peran dengan ibu untuk merawat bayi. Ia belajar untuk memandikan, mengganti popok, dan menenangkan bayi yang sedang menangis.

Ketika usia anak bertambah, ayah dapat berperan lebih banyak. Berbicara atau mengobrol dengan anak, bermain dengan anak, dan melakukan kegiatan lain secara bersama-sama seperti berolah raga merupakan keterlibatan yang dapat dilakukan oleh seorang ayah. Keterlibatan dalam pengasuhan juga tampak dari seberapa besar usaha yang dilakukan oleh seorang ayah dalam berpikir, merencanakan, merasakan, memperhatikan, memantau, mengevaluasi, mengkhawatirkan serta berdoa bagi anaknya (Palkovits, 2002). Jika melihat dari sudut pandang anak, peran seorang ayah tampak dari ketersediaan kesempatan dan waktu untuk melakukan sesuatu, dukungan dan rasa aman bagi anak.

Manfaat Pengasuhan Ayah

Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan, terdapat banyak manfaat jika seorang ayah mengambil peran dalam pengasuhan anak. Dengan adanya pengasuhan ayah, anak menunjukkan peningkatan fungsi kognitif. Bahkan anak dapat memiliki tingkat intelegensi lebih tinggi dari anak lain seusianya. Adanya dukungan akademik yang diberikan oleh ayah memiliki dampak positif terhadap motivasi akademik remaja. Dalam jangka panjang, anak yang dibesarkan dengan keterlibatan ayah dalam pengasuhan akan memiliki prestasi akademik yang lebih baik.

Keterlibatan ayah dalam kehidupan anak juga berdampak positif dengan perkembangan emosinya. Penerimaan ayah memainkan peranan penting dalam perkembangan konsep dan harga diri anak. Secara keseluruhan kehangatan yang ditunjukkan oleh ayah akan berpengaruh besar bagi kesejahteraan psikologis anak dan meminimalkan masalah perilaku yang terjadi pada anak. Sedangkan dalam perkembangan sosial, keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat meningkatkan kmampuan, inisiatif, kematangan sosial anak. Kehangatan dan bimbingan yang diberikan oleh ayah diharapkan pula mampu memunculkan kematangan secara moral, yang diasosiasikan dengan perilaku prososial dan perilaku positif anak.

Bukan hanya anak yang mendapatkan manfaat dari pengasuhan, sang ayah pun mendapatkan manfaat dari pengasuhannya sendiri. Ia lebih puas terhadap dirinya sendiri. Ia mampu memahami diri dan berempati dengan orang lain. Keterlibatan ini juga akan menciptakan kedekatan dan interaksi yang lebih erat dalam keluarga. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan juga akan memberi dampak dalam kebahagiaan pernikahan. Adanya energi positif dalam diri pun akhirnya mampu tampil dalam performa kerja yang diharapkan dapat meningkatkan kondisi perekonomian keluarga.

Pengasuhan oleh Ayah di Indonesia

Walaupun pengasuhan ayah begitu besar manfaatnya bagi keluarga, sayangnya masyarakat masih belum paham tentang masalah ini. Di tengah karut marut situasi di negara ini, sebagian orang masih berusaha memenuhi kepentingan dan kebutuhan sehari-hari daripada memikirkan bagaimana cara anak mampu berkembang secara optimal di tengah keterbatasan. Sering kita membaca di media bagaimana ayah bekerja keras untuk sejumlah uang, tetapi melepaskan begitu saja pendidikan dan pengasuhan anak yang ada di rumah.

Keinginan untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan dan diperkuat dengan pandangan tradisional dimana ayah bertugas untuk mencari nafkah, sedangkan ibu bertugas untuk mengasuh anak. Akhirnya anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu. Hal ini pun menimbulkan ketimpangan dalam keluarga. Anak memiliki ayah, akan tetapi tidak terasa dekat secara psikologis. Akhirnya menimbulkan fenomena “father hunger”, yaitu kerusakan psikologis karena tidak mengenal dan mendapatkan pengasuhan positif dari ayah. Jika kondisi ini terus berlangsung, masa depan negara ini pun akan terancam (fatherless country).  

Para ayah perlu memahami bahwa mereka berperan untuk membentuk karakter anak yang kuat. Tanpa adanya pengasuhan ayah, karakter anak tampak rapuh. Anak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik. Tanpa ada pengasuhan dari ayah, negara ini pun akan menjadi lemah. Oleh karena itu, mari kita evaluasi peran ayah di dalam keluarga kita. Jika ayah belum berperan optimal, berilah saran untuk kembali dalam keluarga dan mengambil peran serta tanggung jawab pengasuhan anak. Mari kita lakukan perbaikan secara kontinu dalam keluarga kita sebelum terlambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: