It's my world

Anggap saja saya sebagai orang tua yang masih belajar tentang menjadi orang tua. Sempat menyesal dulu tidak belajar sungguh-sungguh tentang psikologi perkembangan (anak). Entah kemana saya waktu ada kuliah ini. Jadi, ijinkan saya untuk kembali membuka buku psikologi perkembangan yang ditulis oleh Papalia, Olds, & Feldman.

Saya ingin meringkas tentang perkembangan kognitif anak yang dikemukakan oleh Piaget. Menurut Piaget, perkembangan kognitif dimulai dari tahap sensori motorik, preoperasional, konkret operasional, dan formal operasional.

1. Sensori motorik (lahir hingga 2 tahun). Tahap dimana anak belajar tentang diri dan dunia mereka melalui kegiatan sensori motorik. Perilaku bayi yang tadinya berespons dengan refleks dan tidak terarah, ketika balita berkembang menjadi lebih terarah dan memiliki tujuan. Pada usia ini, anak belajar melalui trial and error untuk menyelesaikan masalah sederhana. Anak juga mendapatkan kesenangan dengan melakukan sesuatu secara berulang-ulang.

Pada akhir tahapan ini, anak mulai meninggalkan cara trial and error. Mereka mampu berpikir simbolik, yaitu anak mulai dapat memahami tentang peristiwa dan mengantisipasi konsekuensinya tanpa harus mempraktekkan. Misalnya, anak yang bermain dengan mainan “kotak bentuk” dapat memeriksa secara seksama untuk setiap lubang tanpa mencoba terlebih dahulu. Mereka pun tampak mampu menunjukkan insight dan mampu bermain pura-pura.

2. Preoperasional (2-7 tahun). Anak masih belum siap secara mental untuk berpikir secara logis. Hal yang menonjol pada tahapan ini adalah kemampuan berpikir simbolik, yang telah muncul pada akhir tahap sensori motorik. Dengan kemampuan berpikir secara simbolik, anak tidak perlu melakukan kontak langsung untuk memahami suatu objek, orang atau peristiwa. Misalnya, anak ingin es krim padahal tidak ada satu hal (tidak melihat lemari es atau iklan) yang dapat memicu keinginan tersebut. Pada tahapan ini, anak sudah dapat mengingat bentuk dan rasa sehingga tidak perlu lagi kontak langsung. 
Pada tahap ini, anak juga mampu memahami ruang, kausalitas, identitas, kategorisasi, dan angka.

Sedangkan hambatan yang dialami oleh anak pada tahap ini adalah kecenderungan untuk fokus pada satu aspek dan menghiraukan aspek lainnya. Mereka belum dapat melihat berbagai aspek secara bersamaan hingga kesimpulan yang diambil tampak tak logis. Anak juga belum dapat memahami tentang penalaran deduktif maupun induktif.

Pada tahapan ini, anak masih tampak egosentris. Mereka beranggapan bahwa orang lain berpikir dan beranggapan seperti dirinya. Anak juga seringkali berpikir benda mati dapat bergerak atau bernyawa seperti layaknya benda hidup. Pada tahap ini, anak berusaha untuk membedakan antara tampilan dan realita, begitu pula antara fantasi dan realita. Jadi, wajar kalau hal yang dikemukakan anak masih kurang “nyambung” dengan orang dewasa.

3. Konkret operasional (7-11 tahun). Pada tahap ini, anak telah dapat menggunakan kemampuan kognitifnya untuk menyelesaikan masalah aktual atau konkret. Anak lebih dapat berpikir secara logis daripada sebelumnya karena mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek dari sebuah situasi. Walaupun begitu, pemikiran mereka masih terbatas pada saat ini (sekarang). Mereka belum dapat memahami hal abstrak.

Mereka dapat memahami konsep ruang. Misalnya, memberikan petunjuk arah atau menemukan barang yang tersembunyi. Mereka mulai paham konsep kausalitas. Dapat membuat kategorisasi yang lebih baik. Dapat memahami penalaran induktif dan deduktif. Pada umumnya, mereka dapat menjawab pertanyaan tanpa mengukur atau menimbang objek. Mereka dapat membayangkannya di dalam pikiran.

4. Formal Operasional (di atas 11 tahun). Pada tahap ini, anak telah dapat berpikir abstrak. Dengan kemampuan ini, anak dapat memanipulasi informasi. Misalnya, mereka dapat mengganti satu simbol untuk simbol yang lain (x = …). Oleh karena itu, mereka siap belajar aljabar dan kalkulus. Mereka juga lebih memahami tentang metafora dan gaya bahasa. Selain itu, mereka dapat berpikir tentang hal yang mungkin terjadi dan menguji hipotesis. Pada tahap ini, anak dapat mengintegrasi hal dari masa lalu dan saat ini untuk membuat rencana masa depan.

Teori Piaget ini memang memiliki keterbatasan, khususnya dalam perbedaan perkembangan individu dan perbedaan kultur budaya. Meski begitu, menurut saya, teori ini masih dapat digunakan untuk memahami kognitif anak secara umum. Masih harus banyak membaca dan belajar untuk lebih memahami anak (khususnya anak saya sendiri). Semoga ringkasan ini dapat memberi manfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: