It's my world

Akhirnya setelah sebulan melahirkan, saya bisa kembali menulis lagi. Kali ini tentang pengalaman saya menjalani vaginal birth after caesarian (VBAC) atau melahirkan normal setelah bedah  Caesar.

Sejujurnya, saya tidak pernah berpikir dapat melahirkan secara normal. Saya tidak punya gambaran atau model dari kakak-kakak sepupu saya tentang melahirkan secara normal. Dua kakak sepupu saya masing-masing melahirkan kedua anaknya melalui bedah Caesar dengan berbagai penyebab. Jadi, saya pun berpikir bahwa saya tidak dapat melahirkan secara normal. Memang kita perlu berhati-hati dengan pemikiran kita karena akhirnya pada persalinan pertama, saya pun melahirkan melalui bedah Caesar.

Saya melahirkan anak pertama pada usia janin 38 minggu dengan bedah Caesar terencana. Dokter menyatakan bahwa bayi saya sungsang (posisi kepala berada di atas) dan terlilit tali pusat. Ketika diputuskan untuk bedah Caesar, saya pasrah saja dan mengikuti nasehat dokter. Saya mencoba untuk membesarkan hati dengan berpikir yang terpenting saya dan bayi sehat. Karena pada saat yang bersamaan, saya sedang berusaha menyelesaikan studi pasca sarjana sehingga perhatian lebih ditekankan pada penyelesaian tugas-tugas kuliah. Saya tidak memiliki banyak waktu untuk memahami resiko bedah Caesar atau melakukan gerakan-gerakan untuk melancarkan kehamilan. Selain itu, suami pun bekerja di pulau seberang sehingga bedah Caesar terencana akan membuat suami bisa mendampingi saya pada hari kelahiran.

Kehamilan kedua saya tidak direncanakan. Dokter yang membantu kelahiran anak pertama sudah pernah memperingatkan untuk memasang alat KB agar jarak anak pertama dan kedua lebih dari dua tahun, jika ingin melahirkan normal. Akan tetapi, kami memutuskan untuk tidak memasang alat KB dan mengandalkan pada sistem kalender saja. Akhirnya, ketika anak pertama saya berusia setahun delapan bulan, saya dinyatakan hamil lagi.

Awal kehamilan, saya sempat dirawat di RS karena pendarahan. Saya berada dalam kondisi dilematis karena belum siap hamil lagi dan sedang fokus bekerja di beberapa tempat. Saya juga masih menyusui anak pertama yang akhirnya saya harus berhenti menyusui karena kontraksi rahim. Setelah kejadian tersebut, saya lebih berhati-hati dalam menjaga kondisi sehingga pada minggu-minggu selanjutnya tidak terjadi masalah.

Dokter kandungan saya yang kedua berbeda dari yang pertama karena saya sudah pindah ke Balikpapan, mengikuti tempat kerja suami. Dokter kedua saya merupakan dokter perempuan dengan usia yang tergolong muda. Dokter yang komunikatif dan apa adanya sehingga saya dapat bertanya secara detail dan mengetahui kondisi riil kehamilan saya. Dari awal pertemuan, dokternya sudah bertanya, “apakah mau melahirkan normal?”. Saya ragu dengan jarak kehamilan yang belum dua tahun. Saya pun masih ragu apa saya memang mampu melahirkan secara normal. Akan tetapi, suami saya yang menyemangati untuk melahirkan normal jika memang kondisi memungkinkan. Bukankah melahirkan itu merupakan hal yang alamiah? Jadi, mengapa tidak mencoba sealami mungkin. Kami pun bertanya kemungkinan untuk melahirkan normal dan dokter pun menjawab baru dapat menentukan melahirkan normal atau tidak ketika kehamilan sudah masuk 36 minggu.

Selama kontrol dengan dokter tersebut, kami mengecek perkembangan bayi kami dan bertanya tentang hal apa saja yang perlu diperhatikan untuk melahirkan secara normal. Sebenarnya, suami yang terlihat begitu semangat untuk kelahiran normal. Saya masih ragu dan mengikuti nasehat dokter. “Lewat apa saja, yang penting semua sehat”, begitu pemikiran saya.

Pada bulan ketujuh, si adek menunjukkan sedang berada dalam posisi sungsang. Saya pun merasa gelisah dan mulai membesarkan hati. Saya juga mengira dokter akan langsung menyarankan bedah Caesar, seperti dokter sebelumnya. Akan tetapi, dokter tersebut yang menyemangati saya apakah saya masih mau melahirkan secara normal. Saya pun disuruh banyak “nungging” dan sujud. Saya melakukan saran tersebut dengan setengah hati karena yakin bahwa kehamilan ini akan seperti kehamilan pertama yang sungsang. Setengah hati juga karena merasa diawasi oleh suami. HEHEHE. Walaupun begitu, pada bulan kedelapan, si adek pun memutar pada posisi normal dengan kepala di bawah. Alhamdulillah.

Pada usia kehamilan 36 minggu tersebut penentuan pun terjadi. Saya dinyatakan dapat melahirkan secara normal dengan kondisi-kondisi tertentu, yaitu tidak boleh induksi dan jika tidak terjadi pembukaan maka langsung bedah Caesar. Saya juga tidak boleh melahirkan normal jika lebih dari 40 minggu karena cairan ketuban saya sudah mulai berkurang. Hal-hal yang membuat saya dapat kesempatan untuk melahirkan normal adalah tidak ada komplikasi medis, posisi bayi dengan kepala di bawah, panggul cukup besar, bayi masih sekitar 2,9-3 kilo, sayatan bekas operasi melintang dan jahitan bekas operasi sudah cukup tebal.

Apakah setelah dinyatakan dapat melahirkan secara normal perjuangan saya terhenti di sana? Tidak, bahkan pernyataan tersebut menjadi awal perjuangan yang sesungguhnya. Saya mulai bersemangat untuk melahirkan secara normal. Saya melakukan saran-saran yang diberikan oleh dokter, mulai rutin senam hamil dan jalan pagi. Saya juga mulai mengingat kembali tentang self-hypnotherapy dan banyak membaca agar lebih tenang ketika menghadapi persalinan. Banyak membaca Al-Quran dan shalat juga membuat saya jauh dari stres.

Hal yang membuat saya agak tertekan adalah menunggu saat kelahiran dan begitu awamnya saya tentang kontraksi sehingga pada usia kehamilan 37 minggu pernah ke RS karena kontraksi palsu yang tidak berhenti. Untungnya, saya memiliki teman-teman untuk bertanya tentang rasanya kontraksi dan mendapatkan dukungan untuk melahirkan secara normal.

Selama usia 36 minggu hingga saat kelahiran, saya benar-benar berjuang untuk jalan tiap pagi bersama anak pertama saya minimal 30 menit. Ketika berjalan, saya sambil mengajak bicara si adek untuk membantu melahirkan normal. Saya juga mempraktekkan senam hamil di rumah untuk menjaga stamina dan mempermudah jalannya persalinan. Mertua saya yang sudah datang dua minggu sebelum waktu melahirkan juga menasehati agar banyak bergerak. Perjuangan tersebut mendapatkan hasil setimpal karena saya melahirkan secara normal menjelang minggu ke-40.

Untuk cerita proses melahirkan secara normal akan saya tulis secara detail pada postingan selanjutnya. Saatnya untuk beristirahat dan memenuhi hak anak🙂

Comments on: "Vaginal Birth After Caesarian (VBAC)" (6)

  1. Mba, boleh tau dokter SPOG di balikpapan yg support VBAC? Terima kasih

  2. Sekarang sudah banyak DSOG yang menangani VBAC, tergantung bagaimana mengkomunikasikan dengan dokternya. Pasien juga berhak 2nd opinion jika memang diperlukan.

  3. Halo Mbak, Dokter Dan suami saya jg semangat skali encouraged saya utk vbac. Kalo saya hamil lg waktu anak pertama 15bln, sy agak ragu krn jaraknya dekat, tp di ausie jarak segitu common utk vbac kata dokternya, yowes manut aja. Haha. Skrg udh 38w. Mau nanya, bb bayinya 3kg wktu 36w?

  4. Ita wulandari said:

    Mba,saya bnr2 ngerasaib apa yg mba rasain waktu itu. Skr anak saya usianya 33minggu dan skr saya lg hamil 16 minggu,dokter tempat saya periksa bilang krna jarak nya msh dkt dan saya disarankan caesar,padahal saya pgn bgt lahiran normal. Tp saya jd galau pas dokter blng kl lahirannya hra caesar lg,menurut mba gmn yah? Apa saya ganti dokter apa gmn??

    • tidak ada salahnya untuk mencari 2nd opinion, mbak.. bisa saja mbak mencari saran dari dokter yang lain. Namun jika sarannya tetap sama, perlu ditanya juga mengapa begitu? karena pasien punya hak untuk mengetahui kondisi dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: