It's my world

Menciptakan Romantisme

Bagi saya, menciptakan romantisme dalam pernikahan itu perlu untuk mempertahankan kelangsungan pernikahan. Menginjak usia pernikahan ketiga, saya mulai waspada dengan berbagai tanda-tanda yang dapat mengganggu pernikahan.

Saya pernah mempelajari sebuah grafik tentang kepuasan pernikahan. Setelah prosesi pernikahan dan masa bulan madu (kalau ada), kepuasan pernikahan mulai menurun. Pasangan mulai menghadapi dunia nyata dimana mereka harus menghadapi berbagai masalah dalam rumah tangga. Konflik mulai muncul terutama setelah lahir anak pertama. Penelitian menyatakan bahwa mengutamakan pemberian perhatian kepada anak dapat mengganggu momen intim pasangan.

Hal tersebut bukan berarti pasangan tidak boleh mementingkan anak,  akan tetapi pasangan perlu menyeimbangkan antara waktu dengan anak dan waktu untuk berduaan. Pasangan tetap perlu berbicara, memberikan afeksi dan perhatian satu sama lain.

Penelitian-penelitian tersebut membuat saya mencari cara agar dapat mempertahankan pernikahan dengan baik. Saya dan suami berkomunikasi tentang cara-cara yang dapat kami tempuh. Mulai dari mencari suasana baru, mencari waktu untuk berdua saja hingga mengeluarkan budget khusus agar kami tetap bisa romantis.

Kami menjalankan rencana-rencana yang kami buat, akan tetapi rasanya seperti ada yang kurang. Ketika kami mendapatkan waktu untuk berdua, kami malah kangen anak yang ada di rumah, seperti ada yang hilang. Ketika kami sudah menyiapkan budget khusus untuk makan berdua, nyatanya pelaksanaan kurang maksimal karena mood kami tidak bisa disetel menjadi romantis. Kami sudah berusaha, tetapi memang tidak mudah. Hal yang mengejutkan adalah ketika kami tidak merencanakan waktu khusus, budget khusus, dan tidak ada suasana baru. Secara spontan, kami malah bisa menciptakan suasana romantis.

Saat itu, kami memang ada janji dengan notaris untuk menyelesaikan masalah akte rumah. Saya menjemput suami ke kantor untuk pergi ke notaris, sedangkan anak ditinggal di rumah. Pada saat sampai, akte rumah belum siap padahal kami sudah menunggu dan belum makan siang. Jadilah, kami memutuskan buat makan di restoran siap saji yang biasa. Saya memesan burger untuk saya dan suami supaya cepat dimakan. Akan tetapi, suami tidak suka dan memilih untuk memesan ayam goreng dan nasi. Setelah makan burger, saya masih belum kenyang. Jadilah, saya mengambil jatah suami dan akhirnya makan sepiring berdua. Kami juga duduk di salah satu pojokan melingkar di restoran itu, seperti ABG yang lagi pacaran.

Menurut kami, hal itu malah romantis. Romantis yang tidak dipaksakan, terjadi begitu saja. Obrolan kami berjalan lancar dan ditutup dengan adegan menggandeng tangan suami ketika keluar restoran. Romantisme tersebut jauh lebih menyenangkan dan melegakan. Romantisme yang sederhana. Romantisme yang saya suka. Kemungkinan besar, kami akan mengulanginya lagi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: