It's my world

Saya menulis cerita ini karena prihatin terhadap situasi yang saya lihat kemarin.

Gambaran yang bisa saya berikan, saya melihat bayi perempuan yang mungil, cantik, dan lucu di sebuah acara pernikahan megah Jakarta. Bayi tersebut digendong oleh seorang perempuan yang saya asumsikan sebagai baby sitter. Baby sitter tersebut sedang memberikan susu formula dalam botol. Saya lihat susu formula yang diberikan adalah salah satu susu formula yang mahal. Saya pun iseng bertanya berapa bulan bayi tersebut. Baby sitter tersebut menjawab, “dua bulan.” Saya pun tidak banyak berkata lagi. Saya hanya memperhatikan dari samping.

Tidak lama kemudian, saya melihat seorang pria menghampiri anak tersebut. Pria tersebut terlihat rapi, bersih, dan tampan dengan baju tradisional keluarga pengantin. Pria tersebut meminta baby sitter mengganti baju bayi perempuan tersebut dengan baju yang lebih bagus. Kedatangan pria tersebut diikuti oleh perempuan yang cantik langsing dengan memakai baju kebaya dan sanggul modern. Saya asumsikan mereka sebagai pasangan suami istri sekaligus orang tua dari bayi cantik tadi.

Iya, betul.. Mereka terlihat sebagai pasangan serasi, cantik dan tampan. Selain itu, melihat dari gedung pernikahan yang saya datangi, mereka mungkin termasuk golongan ekonomi menengah atas. Hal ini juga dapat dilihat dari pakaian, aksesoris, kereta dorong bayi, dan susu formula mahal yang diberikan.

Akan tetapi, hal yang saya sayangkan mereka memberikan susu formula pada anak mereka yang masih bayi. Hal ini membuat saya sedih dan miris. Pada saat itu juga saya sudah menghabiskan banyak waktu di luar rumah dan belum menyusui anak. PD terasa kencang dan mulai sakit. Saya sempat ingin menggendong bayi tersebut dan menyusuinya. Walaupun hanya dipikiran saya saja.

Saya mulai berpikir apakah ibu tersebut tidak bisa memberikan ASI anaknya atau memang tidak mau? Saya mulai berpikir lebih jauh. Apa karena memberikan ASI dianggap tidak sesuai dengan keadaan sosial ekonomi mereka? Padahal saya tahu banyak orang yang hampir sama keadaan sosial ekonomi mereka dan berjuang untuk terus memberikan ASI.

Apakah memberikan ASI terlihat tidak keren? Menurut saya tidak. Saya beranggapan ibu yang bisa memberikan ASI adalah ibu yang keren. Tidak mudah untuk melewati fase menyusui selama 1 tahun pertama. Banyak hambatan dan tantangan supaya bisa menyusui. Saya bahkan akhirnya memutuskan agak ekstrim dengan tinggal di rumah saja agar anak saya bisa mendapatkan ASI. Bukan ASI perah, tapi ASI langsung.

Saya tidak anti terhadap susu formula. Anak saya sempat diberi susu formula ketika7 bulan karena produksi ASI saya sedikit. Saya cukup tertekan dan stres ketika harus mengejar kelulusan S2. Saya harus bolak balik Serang-Depok untuk bimbingan dan terkadang pulang malam hari. Walaupun begitu, saya mencoba menebus kesalahan saya dengan tidak memberikan susu formula setelah saya lulus dan tinggal di rumah.

Saya tidak anti terhadap susu formula, bahkan saya dapat dibilang dibesarkan dengan minum susu formula. Hal tersebut membuat saya sedih dan tidak mau melakukan hal yang sama pada anak saya. Saya sempat pesimis dapat memberikan ASI, tapi Alhamdulillah saya sudah menyusui selama 1 tahun. Saya tidak menyesal memberikan ASI karena ASI adalah salah satu hadiah untuk anak saya.

Saya tidak anti terhadap susu formula karena saya tau ada ibu-ibu di luar sana yang telah berusaha memberikan yang ASI untuk anaknya. Akan tetapi terkendala dengan masalah fisiologis. Tapi saya memang menyayangkan jika ibu-ibu memberikan ASI karena ingin menjaga bentuk tubuh atau PD.

Saya menginfokan ASI karena saya tau bahwa ASI dapat mempererat hubungan ibu dan anak. Ibu akan selalu ingat pada anaknya karena harus memberikan ASI, jika tidak PD akan sakit. Selain itu, anak yang diberi ASI, tingkat kecerdasannya akan lebih tinggi dan lebih percaya diri.

Saya menginfokan tentang ASI karena mengimbangi banyaknya iklan susu formula. Hampir di setiap iklan tv, tabloid, koran, dll, pasti ada iklan susu formula. Indonesia adalah negara yang membebaskan iklan susu formula. Padahal iklan susu formula telah dilarang di negara maju. Jika ingin memberikan susu formula, harus dengan resep dokter dan karena ada masalah klinis.

Saya menginfokan tentang ASI karena ASI lebih murah daripada susu formula. ASI lebih sehat dan higienis, terlebih lagi jika langsung menyusu pada ibu. Kuman-kuman di PD ibu malah membuat anak mendapatkan antibodi sejak bayi. Susu formula juga membuat negara Indonesia melakukan impor secara terus menerus dari negara lain. Jika kita berbondong-bondong memberikan ASI, kita bisa mengurangi impor.

Saya menginfokan tentang ASI karena sesuai dengan ajaran agama saya yang memerintahkan untuk menggenapkan pemberian ASI selama 2 tahun. Saya berusaha semaksimal saya untuk memberikan ASI hingga 2 tahun.

Saya bukanlah konselor laktasi, meski titel tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan manfaat dari pesan yang disampaikan. Saya hanya ingin membangun Indonesia yang lebih baik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: