It's my world

Stres dan Kesehatan

Tahukah Anda bahwa terdapat hubungan antara stres dan kesehatan fisik? Lazarus (dalam Rice, 1999) menyatakan bahwa stres dan kesehatan memiliki hubungan saling mempengaruhi timbal balik. Stres dapat menimbulkan penyakit atau memperburuk kesehatan dan sebaliknya penyakit dapat menurunkan daya tahan tubuh atau kemampuan tubuh menghadapi stres.

Apa itu stres? 

Hans Selye (dalam Greenberg, 2007) menyatakan stres sebagai

“the unspecific response of the body to any demand made upon it

respons nonspesifik dari tubuh terhadap stimulus tertentu. Stimulus dapat berupa hal baik yang disebut sebagai eustress dan dapat berupa hal buruk yang disebut sebagai distress. Beberapa contoh stimulus yang dapat berupa hal buruk, yaitu: stressor mayor (meninggalnya orang yang dicintai), minor (kemacetan), akut (gagal dalam tes), atau kronik (lingkungan pekerjaan yang kurang menyenangkan).

Suatu peristiwa pun tidak menimbulkan jumlah stres yang sama. Misalnya, keluarga yang kehilangan rumah karena bencana tetapi masih memiliki uang untuk membangun kembali dan mendapatkan dukungan sosial yang kuat tidak akan terlalu stres, jika dibandingkan dengan keluarga yang tidak memiliki uang maupun teman yang mendukung. Stres mungkin juga seluruh konsep pengalaman subjektif sebagai respons dari persepsi masalah lingkungan. Misalnya, sebuah tes akhir mungkin akan menjadi hal yang menantang untuk beberapa siswa, tetapi dapat menjadi stres yang tinggi untuk siswa yang tidak siap untuk mengerjakannya.

Respon Fisiologis Stres

Respon fisiologis tubuh ketika terdapat stressor (Greenberg, 2007):

  1. ketegangan otot meningkat
  2. denyut jantung meningkat
  3. tekanan darah meningkat
  4. aktivitas syaraf meningkat
  5. sekresi air ludah menurun
  6. penyimpanan sodium meningkat
  7. pernafasan meningkat
  8. gula darah meningkat
  9. sekresi asam lambung meningkat
  10. gelombang otak berubah
  11. sekresi urin meningkat

Respon-respon tersebut menyiapkan diri kita untuk menghadapi stressor. Namun, apabila produk stres di atas tidak digunakan, reaksi stres ini dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Makin lama (durasi) kondisi fisiologis kita bergeser dari kondisi normalnya dan makin besar (derajat) pergeseran tersebut makin besar kemungkinan timbulnya penyakit (Greenberg, 2007).

3 Tahap Proses Stres General Adaptation Syndrome (Selye dalam Rice, 1999)

  1. Alarm

Reaksi alarm terjadi pada paparan pertama terhadap stressor. Dalam jangka waktu yang pendek tubuh memiliki daya tahan tubuh di bawah level normal. Terjadi peningkatan kerja gastrointestinal dan tekanan darah dalam waktu singkat. Kemudian tubuh secara cepat membentuk pertahanan tubuh. Jika reaksi pertahanan ini berhasil, alarm mereda dan tubuh kembali ke aktivitas normal. Selama periode ini, reaksi terhadap stres akut, banyak stres terselesaikan.

  1. Resistance

Jika stressor menjadi kronis, berlanjut untuk waktu yang lebih lama karena faktor-faktor di luar kontrol organisme atau karena reaksi pertama tidak memperbaiki kondisi, tubuh akan melakukan mobilisasi dalam skala besar. Masalahnya, tubuh telah menggunakan banyak sumber daya untuk memenangkan peperangan ini, yang mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh terus menerus. Lebih jauh, gejala-gejala fisik yang lebih serius, seperti tukak lambung atau atherosklerosis dapat berkembang. Gejala-gejala fisik ini dapat lebih menurunkan daya tahan tubuh.

  1. Exhaustion

Jika stressor makin memburuk, tubuh kelelahan dan kehabisan energi. Daya tahan tubuh ambruk secara bersamaan dan kondisi ini dapat diikuti oleh kematian.

Penyakit Psikosomatis (Greenberg, 2007)

Seorang suami yang ditinggal mati oleh istrinya setiap hari merasakan kesepian dan kesedihan. Sepanjang hari ia tidak dapat melakukan apapun dan setiap malam ia menangis. Satu tahun setelah kematian istrinya, suami itupun meninggal. Beberapa orang menyebut penyebab kematiannya ialah serangan jantuing namun penyebab kematiannya sebenarnya ialah ’patah hati’.

Contoh tersebut merupakan contoh adanya interaksi antara kondisi fisik dan kondisi mental yang tidak dapat kita pungkiri. Penyakit yang disebabkan oleh interaksi antara kondisi keduanya disebut penyakit psikosomatis. Penyakit psikosomatis ialah penyakit yang disebabkan oleh kondisi psikologis (psyche) dan kondisi tubuh (soma). Penyakit psikosomatis ini nyata, dapat didiagnosis, dan memiliki manifestasi secara fisik. Akan tetapi, penyakit ini juga memiliki komponen psikologis, meskipun hal ini sulit untuk diperiksa.

Penyakit psikosomatis dapat bersifat psychogenic atau somatogenic. Psychogenic merujuk pada penyakit fisik yang disebabkan oleh stres emosional. Contohnya ialah asma. Pada penyakit psikosomatis yang bersifat psychogenic terjadinya penyakit tidak disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi karena kondisi psikis merubah kondisi fisiologis sehingga ada bagian tubuh yang melemah. Penyakit psikosomatis yang bersifat somatogenicterjadi ketika kondisi psikologis meningkatkan keterbukaan tubuh terhadap beberapa penyakit (yang disebabkan mikroba) atau beberapa proses degeneratif yang alami. Contoh penyakit yang dicurigai termasuk somatogenic ialah kanker dan rheumatoid arthritis, walaupun ada juga penyebab lain dari penyakit ini.

Sumber:

Greenberg, Jerrold S. 2007. Comprehensive Stress Management. Ninth edition.New York: McGraw-Hill

Rice, Phillip L. 1999. Stress and Health. Third edition.California: Brooks/Cole Publishing Company

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: