It's my world

Sepertinya menyenangkan melihat orang lain yang memiliki bayi dan anak. Saya juga tidak menyalahkan pendapat tersebut karena berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gallup & Newport (dalam Bird & Melville, 1994), beberapa orang tua yang dimintai pendapatnya menyatakan bahwa hal yang paling menyenangkan ketika memiliki anak adalah:

  1. mendapatkan cinta dan kasih sayang dari anak (12%)
  2. mendapatkan kesenangan ketika melihat anak mereka tumbuh dan berkembang (11%),
  3. adanya kebahagiaan (10%),
  4. adanya rasa kekeluargaan yang mereka dapatkan (7%)
  5. adanya pemenuhan serta kepuasan yang didapatkan (6%).

Akan tetapi, sudahkah kita benar-benar paham pengorbanan, tanggung jawab dan kewajiban menjadi orang tua? terutama seorang ibu. Sebelum memiliki anak, ibu akan melewati proses kehamilan selama 9 bulan. Proses itu disertai perasaan kurang nyaman, mual, muntah, pegal, mudah lelah, pusing, tidur tidak nyaman dan lain sebagainya. Bagi beberapa orang yang tidak siap dengan prosesnya, mungkin akan mengeluh ini dan itu. Terkadang membuat publikasi bahwa dirinya sedang merasakan ketidaknyamanan agar menarik perhatian orang lain, terutama suami atau keluarga terdekat.

Berbeda dengan ibu yang sudah lebih siap, ibu akan lebih menerima dan menjalani proses yang kurang nyaman tersebut dengan hati yang lebih lapang. ibu yang lebih siap memiliki anak akan berusaha menjaga kandungannya dengan baik, dengan cara yang baik dan nutrisi yang baik. Ia akan meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya untuk melalui proses kehamilan terseebut dengan lebih nyaman.

Setelah melahirkan, ibu akan mengorbankan lebih banyak lagi. Ibu adalah pekerjaan 24 jam. Selain itu, ada pendapat yang menyatakan bahwa menjadi ibu berarti membatasi kebebasan, meningkatkan jam kerja, meningkatkan kebutuhan keuangan, dan memiliki hidup yang kompleks dan terbatas. Pada sisi yang lain, ketika menjadi seorang ibu, bertambah kehadiran seseorang yang penting dalam kehidupan wanita tersebut yang turut serta membawa perubahan secara sosial dan biologis (Goldsteen & Ross: Smith; Smith, Jarman, & Osborn dalam Smith, 1999). Dengan pernyataan tersebut, terlihat bahwa menjadi ibu adalah perubahan yang besar.

Persiapan sebelum menjadi ibu perlu menjadi prioritas karena bisa saja akhirnya muncul gangguan fisik dan emosional pada ibu. Misalnya, kecemasan selama kehamilan, kurangnya kelekatan hubungan ibu-anak pada masa kehamilan, komplikasi pada masa persalinan, kelahiran anak dengan kebutuhan khusus, baby blues, depresi pasca persalinan, dan masalah penyesuaian diri yang buruk ketika menjadi seorang ibu. Oleh karena itu, para ibu perlu benar-benar menyiapkan diri sebelum hendak memiliki anak.

Jadikan kehamilan adalah waktu yang menyenangkan dan dapat dinikmati. Jika perlu rencanakan kehamilan sejak awal. Bersama suami, tentukan saat yang tepat untuk hamil dan memiliki anak. Jika perlu persiapkan keuangan untuk persiapan anak. Kondisikan keluarga dan lingkungan sekitar ketika siap memiliki anak. Dengan adanya persiapan tersebut diharapkan ibu dapat menjalani perannya dan membesarkan anak dengan lebih baik.

Comments on: "Siap mental untuk memiliki anak" (2)

  1. terima kasih, mbak, artikelnya🙂
    salam kenal🙂

  2. salam kenal mbak…😀 smoga bermanfaat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: