It's my world

Tulisan ini dibuat sambil nunggu suami shalat Jumat, pengen tau secepat apa saya bisa menulis dalam waktu singkat. So, lets try…🙂

Saya melihat fenomena kebanyakan orang saat ini yang sering menggunakan kata “galau” dan “lebay”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV (2008), definisi “galau” berarti kacau (tentang pikiran); “bergalau” berarti (salah satu artinya) kacau tidak keruan (pikiran); dan “kegalauan” berarti sifat (keadaan hal) galau. Merujuk ke definisi menurut kamus, keadaan galau adalah saat pikiran sedang kacau tak keruan. Orang yang tengah galau pikirannya sedang kacau.

Jika merujuk definisi galau dari KBBI dan melihat dari sudut pandang psikologi, orang yang sedang galau (pikiran kacau tak karuan) berarti orang tersebut mengalami gangguan psikologis. Akan tetapi, definisi ini tentunya tidak tepat pada realita di lapangan. Penggunaan kata “galau” pada saat ini hanya menjelaskan kondisi bingung, bimbang, sedih, gelisah.

Sedangkan definisi lebay, kita tidak akan menemukan definisi tersebut di KBBI. Lebay bisa disebut sebagai perilaku atau sikap yang berlebihan dan dapat dipadankan dengan kata hiperbolis (sifat berlebihan). Kata “lebay” ini biasanya hanya dipergunakan dalam percakapan sehari-hari.

Hal yang saya perhatikan bukanlah tentang definisi kata-kata tersebut, tetapi pada kondisi atau emosi yang dirasakan oleh orang-orang pada saat ini. Mudah sekali merasa bingung, bimbang, sedih, atau gelisah. Mudah sekali bertindak atau bersikap berlebihan.

Kadang saya juga merasakan hal yang sama. Akan tetapi, saya melakukan beberapa hal berikut agar tidak terlalu “galau” dan “lebay”.

1. Kontrol diri (Self-control; Bandura) untuk menempatkan sesuatu pada saat dan situasi yang tepat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memproses segala sesuatu dalam pikiran kita sebelum bertindak. Berpikir sebelum bertindak.

2. Saya juga berusaha menetapkan tujuan saya dalam hidup sehingga tidak mudah bingung, bimbang, sedih atau gelisah. Saya mempunyai tujuan dan pegangan hidup yang jelas, apalagi kalau bukan Allah SWT dan agama Islam. Tiada daya dan upaya melainkan dari Allah SWT.  Saya juga selalu berusaha menetapkan tujuan jangka pendek yang lain setelah mencapai satu tujuan. Kemudian tidak terlalu bersedih ketika satu tujuan tidak tercapai asalkan kita sudah berusaha.

3. Bertanggung jawab dan siap menerima konsekuensi dari tindakan. Jika sejak awal kita memilih A yang akan berakibat B, maka siaplah untuk menerima akibat B tersebut. Memilih sesuatu tanpa mau menanggung akibat sama saja tidak bertanggung jawab terhadap keputusan yang kita ambil.

4. Terakhir, tidak mengeluh… Saya masih sulit melakukan hal ini, tetapi saya mencoba. Tips terakhir ini saya dapatkan dari mentor saya, seorang psikolog berpengalaman. Jika memang sudah mengambil keputusan dan menerima akibat, tidak perlu mengeluh karena itu sudah keputusan kita. Oleh karena itu, buatlah pilihan yang bijak sejak awal, berpikir sebelum bertindak agar tidak menyesal.

Sekian dulu, suami sudah datang… Mari kita makan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: