It's my world

Psikologi dan Sufisme

“Barangsiapa yang mengetahui dirinya,

maka akan mengetahui penciptanya.”

(Nabi Muhammad SAW)

Dalam perjalanan manusia, orang-orang terpelajar semua masa telah memikirkan jawaban terhadap pertanyaan abadi tentang manusia. Misalnya, siapa aku? Apakah tujuan hidup? Apakah kebenaran? Apakah itu kebaikan? Adakah kehidupan setelah mati? Bagaimana caranya saya dapat menemukan kedamaian? Siapa atau apa Tuhan itu? Namun, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak menjadi titik perhatian dari psikologi barat sehingga jawaban pertanyaan tersebut belum pernah diungkap (Wilcox, 1996).

Psikologi Barat tidak memiliki jawaban terhadap eksistensi manusia. Sebaliknya, ia lebih memfokuskan untuk mendeskripsikan tingkah laku tanpa berusaha memikirkan dasarnya, prinsip-prinsip tingkah laku yang mendasari. Psikologi hanya menjadi sekilas pandang saja dengan mempelajari hal-hal kecil dan segmen yang dapat terukur dalam tingkah laku manusia. Para psikolog menyediakan informasi dan deskripsi yang berguna terkait dengan tingkah laku manusia, tetapi tidak pernah dapat memberikan jawaban pertanyaan paling mendalam mengenai “hati” manusia (Wilcox, 1996).

Terdapat satu sumber tradisional dan konsisten yang memiliki pandangan jauh lebih luas dan menyeluruh dibandingkan dengan psikologi Barat biasa. Sebuah gambaran manusia yang termotivasi, kompeten, tenang, kreatif, produktif, berfungsi secara penuh, dan mampu menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri serta dengan sang Pencipta. Hal ini disebut dengan irfan dalam bahasa Persia, suatu ide pencerahan yang tidak dikenal dalam dunia Barat (Wilcox, 1996).

Irfan ini dapat diraih melalui sufisme. Sufisme bukanlah suatu penjelasan, tapi sebuah pengalaman, tepatnya pengalaman hadirnya pengetahuan diri yang hakiki, yaitu pengetahuan dan kesadaran tentang Tuhan. Sufisme merupakan suatu cara penyembuhan jiwa yang sakit, rasa keterasingan diri, baik dari dirinya sendiri dan dari Tuhan yang menyebabkan seseorang merasakan sakit dan penderitaan yang luar biasa. Penyembuhan semacam ini adalah penyembuhan yang berhubungan langsung dengan Sang Sumber Kehidupan (Source of Life) (Wilcox, 1996).

Catatan historis tentang sufisme mengacu pada lebih 1400 tahun ke belakang di masa Nabi Muhammad SAW. Dasar ajarannya ditemukan dalam Al-Quran. Pendiri mazhab sufisme adalah Uweys Gharani, seorang penduduk Yaman yang hidup pada masa Nabi Muhammad SAW, tetapi tidak pernah berjumpa dengannya. Hazrat Uweys telah menerima ajaran-ajaran Islam melalui mata hatinya dan hidup dengan prinsip-prinsip ajarannya. Murid-murid sufi seringkali meninggalkan kampung halaman mereka dan menempati daerah lain untuk mengajar, menjadikan cabang-cabang sufisme berkembang selama berabad-abad (Wilcox, 1996).

Adapun perbedaan secara singkat antara psikologi dan sufisme dapat dilihat dari tabel berikut:

Psikologi

Sufisme

Ada sejak Kurang dari 100 tahun 1400 tahun yang lalu
Tujuan Prediksi dan kontrol terhadap perilaku manusia Pengetahuan diri, pengetahuan terhadap pencipta
Metode Kuantitatif, impersonal Kualitatif, personal
Definisi masalah Sakit mental Jiwa yang tidak sehat
Tujuan Kesehatan mental Menyembuhkan jiwa, penyatuan dengan yang dicintai
Metode utama Menekankan pada dialog Menekankan pada pengalaman
Hasil perubahan Sedikit, penampilan, adaptasi Dalam, permanen, transformasi.
Fokus Manusia Tuhan

 

Tujuan Sufisme

Profesor Angha menjelaskan tujuan Sufisme adalah pengetahuan akan Tuhan dan peniadaan semua hal kecuali diri yang abadi, luhur, dan penuh kasih. Sesuatu yang disebut sebagai “AKU”, sang diri sendiri. Secara simbolik, tujuan sufisme dituliskan dengan bahasa yang puitis dalam berbagai bentuk. Tetesan air kehilangan bentuknya pada dalamnya lautan. Sang pencinta luruh dalam penyatuan dengan Sang Kekasih (the Beloved). Tujuan tersebut bisa dipandang sebagai kematian, sesuatu yang berbeda dengan kematian fisik. Ketika “kematian” ini telah tercapai, maka tidak ada lagi ketakutan akan kematian fisik. Sebaliknya, hanya ada kedamaian dan ketentraman (Wilcox, 1996).

 

Metodologi Sufisme

Hazrat Pir (dalam Wilcox, 1996) mengemukakan 8 prinsip sufisme yang penting untuk mencapai tujuan akhir.

Metode Sufisme

Cara

Dzikir (mengingat) – mengingat Tuhan sepanjang waktu
Fikr (berpikir, merencanakan) – selalu berada dalam keingintahuan
Sahar (terjaga) – membangkitkan jiwa dan tubuh
Ju’i (lapar) – memiliki rasa lapar secara lahir/pikiran dan batin/hati agar tetap dalam pencarian dan pencapaian kebenaran.
Suamt (memperhatikan secara diam-diam) – berhenti memikirkan dan berbicara mengenai hal-hal yang tidak beguna
Saum (berpuasa) – puasa tubuh dan pikiran
Khalwat (menyendiri) – berdoa dalam kesendirian, baik secara internal maupun eksternal
Khidmat (mengabdi) – melarutkan kebenaran kepada guru dan menyandarkan kepada kebenaran eksistensi, yaitu Tuhan.

 

Sumber:

Wilcox, L. (1996). Perbincangan Psikologi Sufi. (Terjemahan: Evie Nurlyta Hafiah). Jakarta: Nusantara Centre.

Tugas Mata Kuliah Filsafat tentang Posmodern, Psikoterapi dan Sufi oleh Sarwendah Indrarani, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: