It's my world

Teori ini ditulis ketika membuat makalah pendamping kasuistik ketika kuliah. Smoga bermanfaat.

Dasar dari teori diatesis stres adalah kecenderungan karakteristik manusia yang dapat meningkatkan kemungkinan gangguan. Teori ini mengintegrasikan faktor biologi, psikososial, dan lingkungan pada individu. Berdasarkan teori ini, seseorang yang memiliki kerentanan spesifik (diatesis) dan diaktifkan oleh sebuah stresor memungkinkan berkembangnya gangguan psikotik.

Stresor kemungkinan bersifat biologis, lingkungan, atau keduanya. Komponen lingkungan mungkin biologikal (seperti infeksi atau kurang nutrisi) atau psikologis  (seperti kematian orang terdekat, perceraian, atau tidak memiliki pekerjaan).

 Menurut teori ini, individu yang memiliki kerentanan tidak selalu harus mengembangkan gangguan psikotik. Individu akan mengembangkan gangguan psikotik saat mereka menghadapi stres yang tidak mampu mereka hadapi, seperti trauma ekstrim, konflik interpersonal, masalah pernikahan, kehilangan orang yang dicintai, atau kehilangan pendapatan dan tabungan. Ketika individu dapat menghadapi stres terhadap trauma yang dihadapi, gangguan psikotik mungkin tidak pernah dialami.

Semakin besar kerentanan seseorang, maka stressor sekecil apa pun dapat menyebabkan ia mengembangkan gangguan psikotik. Semakin kecil kerentanan seseorang, maka butuh stressor yang besar pula untuk menderita gangguan psikotik. Berdasarkan teori ini, baik stressor maupun kerentanan dapat berupa biologis, lingkungan, atau keduanya.         

Berdasarkan sudut pandang psikososial, beberapa pasien psikotik berasal dari keluarga dengan disfungsi. Perilaku keluarga yang patologis secara signifikan meningkatkan stres emosional yang harus dihadapi oleh pasien psikotik. Adapun perilaku patologis tersebut seperti adanya standar ganda dalam keluarga, dimana seorang anak menerima pesan yang bertolak belakang dari orangtua yang terkait dengan perilaku, sikap, maupun perasaannya. Kemudian, adanya pola keluarga yang didalamnya terdapat perebutan kekuasaan atau dominasi dari salah satu orangtua dan terkait dengan ekspresi emosi, dimana orangtua atau pengasuh memperlihatkan sikap terlalu banyak mengkritik, kejam, dan sangat ingin ikut campur urusan anak. Banyak penelitian menunjukkan bahwa keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi meningkatkan tingkat relaps pada pasien psikotik.

Daftar Pustaka:

American Psychiatric Association. 1994. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (4th Ed). Wahington: American Psychiatric Association.

Fauziah, F., & Widury, J. 2005. Psikologi Abnormal: Klinis Dewasa. Depok: UI Press.

Kring, A. M., Davidson, G. C., Neale, J. M., & Johnson, S. L. (2007). Abnormal Psychology (10th Ed.). New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: