It's my world

It’s just my opinion… not based on research.

Konflik ibu bekerja dan tinggal di rumah  mungkin pernah terjadi pada sebagian ibu yang memiliki anak. Konflik ini sering terjadi karena ada kebutuhan yang berbeda. Beberapa alasan ketika ibu memilih untuk bekerja:

1. Butuh uang.

Siapa yang tidak membutuhkan uang? Meskipun bukan tujuan utama dalam hidup, uang dapat menunjang tercapainya tujuan utama.  Seorang ibu dengan suami bekerja dan terlihat mapan pun terkadang membutuhkan tambahan uang, mungkin untuk menutupi kebutuhan rumah tangga atau hanya sekedar memenuhi kebutuhan diri sendiri.  Selain itu, ibu yang sebelumnya terbiasa bekerja terkadang malu jika harus meminta uang tambahan dari suami.

2. Aktualisasi diri.

Beberapa ibu memilih alasan aktualisasi diri karena merasa punya keahlian atau kemampuan tertentu yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Ibu juga mendapatkan tempat lain untuk menyalurkan kreativitasnya. Sayang jika keahlian, kemampuan, atau kreativitas tersebut tidak disalurkan.

3. Bosan di rumah.

Pada awal bulan pertama tinggal di rumah mungkin tidak terasa bosan. Akan tetapi, lama kelamaan ibu dapat mengalami kebosanan karena di rumah ruang lingkupnya terbatas dan mengerjakan hal yang sama setiap hari. Berbeda jika ibu bekerja yang dapat bertemu dengan banyak orang dan mendapatkan tantangan baru setiap waktunya.

Meski ada beberapa alasan lain untuk tidak bekerja, alasan mengutamakan anak adalah alasan utama para ibu untuk tinggal di rumah.

Mengutamakan anak

Tidak dapat dipungkiri anak adalah investasi masa depan. Hasil investasi tersebut memang baru bisa dirasakan nanti, akan tetapi prosesnya dimulai sejak dini bahkan sebelum anak lahir ke dunia. Oleh karena itu, seorang ibu akan berusaha sebisa mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi anak, meski harus meninggalkan pekerjaannya. Ibu  terkadang juga tidak tega membiarkan anak diasuh oleh orang lain atau asisten RT. Ibu ingin memiliki kedekatan dan mengetahui perkembangan anaknya.

Konflik inilah yang sedang terjadi pada saya saat ini. Kemudian alasan yang saya kemukakan di atas adalah alasan yang menjadi sumber konflik saya. Tiga alasan untuk bekerja di rumah terkalahkan oleh alasan mengutamakan anak.

Saya berjuang untuk menolak satu per satu tawaran pekerjaan yang kebanyakan dari luar kota. Bukan karena saya tidak mau, tapi saya takut tidak maksimal dalam pekerjaan saya. Saya juga takut anak saya tidak terurus dengan baik.  Saya menghargai orang-orang yang menawari saya pekerjaan dan bersyukur karena masih dipercaya. Akan tetapi, saya ingin agar anak dapat berkembang secara sehat (sehat fisik, sehat mental, dan sehat spiritual).

Saya yakin insya Allah akan ada pekerjaan lain yang menanti untuk saya. Pekerjaan yang membuat saya lebih bermanfaat bagi orang lain. Amiiin.

Comments on: "Dilema antara ibu bekerja atau tinggal di rumah" (2)

  1. Semangat Mbak Awen.. aku memilih kerja sekarang.. bukan masalah materi, tapi kontribusi.. (walaupun tempat kerjaanku sekarang, ‘Aqilla tetep bisa ikut setiap datang..)
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: