It's my world

Seringkali orang-orang yang saya temui dalam kehidupan sehari-hari menyamakan profesi psikolog dan psikiater karena sama-sama mendalami tentang ilmu jiwa dan perilaku manusia. Padahal ada perbedaan diantara kedua profesi tersebut.

1. Psikolog

Psikolog berlatar pendidikan S1 Psikologi yang kemudian melanjutkan pendidikan S2 di bidang profesi psikologi.  Saat ini, psikolog yang telah menyelesaikan pendidikannya akan mendapatkan gelar “M. Psi, Psi.” Sedangkan gelar psikolog pada tahun 1950-1980an atau kurikulum lama adalah “Dra.”  untuk perempuan dan “Drs.” untuk laki-laki. Para psikolog pada waktu itu pun menempuh pendidikan sekitar 5-6 tahun dan langsung bisa praktek tanpa perlu menempuh pendidikan S2.

Profesi psikolog memiliki kekhususan masing-masing. Misalnya, klinis (dewasa dan anak), pendidikan, industri dan organisasi. Psikolog ini dapat bekerja sesuai kekhususan masing-masing. Psikolog klinis bekerja di rumah sakit, puskesmas, pusat krisis atau pusat rehabilitasi. Psikolog pendidikan bekerja di berbagai sekolah. Psikolog industri dan organisasi bekerja di perusahaan-perusahaan untuk seleksi kerja atau perkembangan organisasi. Berbagai kekhususan ini membuat profesi Psikolog memiliki cakupan yang luas dan dapat ditemui di berbagai bidang.

Sebagai praktisi psikologi, psikolog dapat menyimpan, menggunakan dan mengoperasikan, juga menginterpretasikan berbagai alat tes psikologi. Selain itu, psikolog terutama bagian klinis dapat menangani berbagai masalah, seperti pengasuhan anak, pertemanan, suami istri dan keluarga. Psikolog juga dapat menangani masalah klien pemakai narkoba dan korban KDRT. Untuk menyelesaikan masalah klien (psikologi menggunakan istilah “klien” bagi individu yang membutuhkan bantuan), psikolog dapat melakukan konseling dan psikoterapi. Psikolog tidak akan memberikan obat-obatan karena tidak memiliki ijin memberikan obat. Psikolog mengobati melalui “kata-kata”.

2. Psikiater.

Psikiater adalah dokter yang mengambil spesialisasi kejiwaan/psikiatri sehingga psikiater yang telah menyelesaikan pendidikannya akan bergelar “dr. (nama) Sp. KJ.”

Sebagai seorang dokter, psikiater dapat memberikan terapi obat-obatan (farmakologi) pada pasiennya. Pasien  memiliki gangguan secara biologis sehingga membutuhkan obat-obatan. Misalnya, mual, muntah, pusing karena psikosomatis atau tidak bisa tidur (insomnia). Contoh lain, perasaan senang atau sedih berlebihan yang diindikasikan adanya gangguan secara biologis dapat diberikan terapi obat. Pada penderita skizofrenia khususnya yang dapat mencelakai diri atau lingkungannya juga dapat dibantu dengan obat-obatan.

KERJA SAMA

Dalam prakteknya, psikolog dan psikiater saling bekerja sama. Jika memerlukan bantuan penanganan ahli lain, psikolog tetap akan mereferensikan anak agar berkonsultasi lebih lanjut kepada psikiater. Demikian pula sebaliknya. Misalnya dalam kasus penggunaan narkoba, psikiater dapat memberikan terapi farmakologi sedangkan psikolog memberikan terapi perilaku. Begitu pula pada penderita skizofrenia, psikiater dengan obat-obatannya dapat membantu menenangkan penderita sedangkan psikolog dapat membantu pola pikir dan perilaku dengan psikoterapi.

Apapun perbedaan psikolog dan psikiater, perbedaan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Hal yang terpenting adalah jika Anda merasa memiliki masalah atau gangguan, segera konsultasikan pada ahli untuk dicari penyelesaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: