It's my world

Psychological Distress

Topik ini menjadi salah satu topik dalam bahasan kasus di kampus.  Saya menganggap topik ini sebagai “AHA moment” karena saya sempat kebingungan dalam membahas kasus.  Saya disarankan untuk menggunakan topik ini oleh dosen pembimbing (makasih ya mbak). Topik ini adalah salah satu ilmu baru yang saya pelajari ketika S2. Smoga bermanfaat.

Sumber:

Mirowsky, J. & Ross, E. C. (2003). Social cause of psychological distress. New York: Walter de Gruyter, Inc.

             Psychological distress adalah keadaan subjektif yang dipersepsikan tidak menyenangkan. Psychological distress memiliki dua bentuk utama, yaitu simtom dari depresi dan kecemasan. Pertama, depresi sebagai perasaan sedih, kacau, kesepian, tak berdaya atau tidak berharga, berharap untuk mati, kesulitan untuk tidur, menangis, merasa membutuhkan usaha untuk melakukan sesuatu dan tidak dapat berjalan. Kedua, kecemasan sebagai perasaan tegang, khawatir, mudah tersinggung, dan takut.

Keadaan depresi maupun kecemasan tersebut muncul dalam dua bentuk, yaitu emosional (mood) dan fisiologis (malaise). Mood merujuk pada perasaan seperti kesedihan di dalam depresi atau kekhawatiran dalam kecemasan. Malaise merujuk pada keadaan tubuh, contohnya lesu pada depresi atau kegelisahan dan penyakit otonomik seperti sakit kepala, pusing, atau sakit perut pada kecemasan. Terdapat kecenderungan individu yang depresi terlihat cemas dan sebaliknya individu yang cemas terlihat depresi.

Depresi                                 Kecemasan

Mood

Murung, kurang bersemangat, sedih, kesepian, merasa hidup gagal, tidak ada sesuatu yang benar, mudah merasa terganggu, berharap mati

Takut, khawatir, cemas, lekas marah, tegang

Malaise

Tidak ada selera makan, sulit tidur, tidak dapat berkonsentrasi, tidak dapat mengingat, melakukan semuanya dengan usaha, tidak dapat bangun, tidak banyak bicara

Berkeringat dingin, jantung berdetak keras, pingsan, pusing, nafas pendek, tangan gemetar, merasa panas seluruh tubuh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Distres bukanlah penyakit mental. Distress yang paling ekstrem, persisten, atau tidak dapat dijelaskan baru dapat dinilai sebagai penyakit mental. Kebanyakan orang pada umumnya tidak memiliki masalah emosional abnormal atau parah, meski ada beberapa yang seperti itu. Distres dalam dunia psikiatri setara dengan demam atau flu. Meski memiliki tingkat keparahan, distres menunjukkan bahwa situasi mengancam atau kehilangan semangat yang dapat diselesaikan.

Terdapat enam pola dasar dari distres; (1) semakin tinggi status sosioekonomi seseorang semakin rendah tingkat distres, (2) orang yang menikah kurang mengalami distres daripada yang tidak menikah, (3) orang tua dengan anak di rumah lebih distres dibandingkan dengan orang yang tidak membesarkan anak; (4) wanita lebih banyak mengalami distres daripada laki-laki, (5) semakin banyak perubahan yang tidak diinginkan terjadi pada kehidupan seseorang maka semakin besar tingkat distres, (6) orang dengan usia paruh baya jarang merasa depresi tetapi orang yang lebih tua lebih jarang lagi merasa cemas. Apapun penyebabnya, distres disebabkan oleh perasaaan tidak berdaya dan merasa pihak luar yang mengontrol kehidupan seseorang.

Terdapat penelitian bahwa bentuk distres terjadi bersamaan dengan kemarahan, ketidakbahagiaan, dan gangguan fisiologis. Masing-masing komponen berkorelasi positif. Selain itu, seseorang yang mengalami distres pun cenderung menunjukkan respons yang berbeda dari kepribadian atau pandangannya. Misalnya, ia biasanya periang dan mudah bergaul. Akan tetapi, ia berubah menjadi pendiam karena sedang mengalami distres.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: