It's my world

Bimbingan Pra Nikah

pra-nikahApa benar ini jodohku ?
Nikah…, siapa takut ?
Modal berani, cukup enggak ya ?
Nikah sekarang atau nanti ?
Kalau sudah nikah gimana ya ?
Sebenarnya aku siap nikah enggak sih ?

JANUARI 2017, Ltppsdm Uniba mengadakan:

BIMBINGAN PRA NIKAH
Perisapan Menuju Pernikahan Sakinah

Pemateri : Sarwendah Indrarani, M. Psi, Psikolog
Hari : Sabtu
Tanggal : 21 Januari 2017
Pukul : 09.00 – 13.0 WITA
Tempat : Gedung G, Ruang : 608
Universitas Balikpapan, Jl. Pupuk Raya, Kel Damai Bahagia, Balikpapan

Materi :
1. Tujuan dan Harapan Pernikahan
2. Mitos dan Fakta dalam Pernikahan
3. Sumber Konflik dengan Pasangan

Investasi :
Single = Rp. 150.000,-
Couple = Rp. 270.000,-

Terbuka untuk umum

Registrasi dan informasi :
Hanum (0542) 852 1883 / 0857 8792 5331

TEMPAT TERBATAS..!!

Memanah merupakan olahraga yang menggunakan alat berupa busur panah, anak panah, dan target atau sasaran  anak panah. Panahan sudah digunakan sejak zaman dulu sebagai alat berburu, alat berperang, dan sekarang alat tersebut berganti fungsi sebagai alat olahraga.

Memanah akhir-akhir ini menjadi olah raga yang populer, salah satunya di Balikpapan. Ada beberapa tempat latihan memanah di Balikpapan, bahkan sudah memanah sudah masuk ke sekolah-sekolah dan ada kompetisi memanah. Memang peminat paling banyak untuk memanah adalah anak-anak, tetapi tidak menutup kemungkinan dewasa mulai berlatih memanah.

Jadi, mengapa memanah?

Memanah adalah olah raga sesuai sunnah Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla akan memasukkan tiga orang ke dalam surga lantaran satu anak panah; orang yang saat membuatnya mengharapkan kebaikan, orang yang menyiapkannya di jalan Allah serta orang yang memanahkannya di jalan Allah.” Beliau bersabda: “Berlatihlah memanah dan berkuda. Dan jika kalian memilih memanah maka hal itu lebih baik daripada berkuda.” (AHMAD – 16699)

Manfaat lain dari memanah, dapat melatih kesabaran. Orang yang moody dan tidak sabar agak sulit dalam berlatih memanah. Dalam panahan, kita diajarkan untuk tenang, relaks, tidak terburu-buru, badan tidak boleh tegang dan kaku. Selain itu, memanah melatih fisik dan daya tahan tubuh, khususnya koordinasi antara gerakan tangan dan mata, sekaligus fleksibilitas jari-jari. Memanah pun dapat meningkatkan konsentrasi, kemampuan dan kepercayaan diri. Manfaat lainnnya bisa menjadi tempat untuk bersosialisasi dengan pemanah-pemanah yang lain.

Ababil Archery Club, Lapangan Tennis Komplek WIKA

 

 

Workshop Family Therapy

family-therapyAlhamdulillah, pada bulan Agustus 2016 mendapatkan kesempatan untuk mengikuti workshop family therapy di Balikpapan. Pembicara workshop ini adalah Kang Asep Haerul Gani. Sudah lama saya memiliki keinginan untuk mengikuti workshop yang diarahkan oleh beliau. Terakhir kali saya mengikuti workshop, yaitu sekitar tahun 2008 atau 2009 mengenai forgiveness therapy.

Kesan saya tentang workshop family therapy: Sangat bermanfaat sekali baik untuk secara pribadi maupun untuk pekerjaan saya. Di sana diajarkan tentang memahami sifat-sifat seseorang yang diturunkan dari keluarga asal, bagaimana dampaknya ketika menikah dan membentuk keluarga baru, trauma-trauma yang diakibatkan masalah keluarga dan sebagainya. Kemudian diajarkan pula bagaimana melakukan terapi untuk klien atau orang lain, namun tentunya kita juga harus mau menjadi “pasien” sebelum bisa menerapi orang lain.

Semoga dengan tambahan ilmu dan wawasan tentang terapi keluarga, saya bisa bekerja dan berperilaku dengan lebih baik lagi. Walaupun mungkin tidak seoptimal jika langsung diterapi kang Asep. Setelah mengikuti satu workshop, keinginan untuk belajar terapi yang lain semakin mengebu-ngebu. Semoga bisa ikut workshop lainnya di bulan-bulan yang akan datang.

babySekilas tentang temper tantrum… rangkuman artikel internet.

Apa temper tantrum itu?

Suatu kondisi emosional yang umum dialami oleh anak-anak usia 1-4 tahun, terjadi pada anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka akibat tidak terpenuhinya keinginan mereka, atau hanya sekedar ingin untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya saja.

Tantrum biasanya terjadi ketika anak-anak membentuk kesadaran diri. Balita belum cukup memahami kata “aku” dan “keinginan dirinya” tetapi sangat mudah untuk tahu bagaimana memuaskan apa yang diinginkan. Tantrum adalah hasil dari energi tinggi dan kemampuan yang tidak mencukupi dalam mengungkapkan keinginan atau kebutuhan “dalam bentuk kata-kata”.

Karakteristik : kemarahan luar biasa karena frustasi, dilanjutkan dengan menangis, berteriak, dan pergerakan badan yang berlebihan, termasuk melempar barang, menjatuhkan diri ke lantai, dan lain-lain.

Tantrum dianggap berbahaya jika tampil dalam bentuk perilaku agresif baik menyakiti orang lain ataupun diri sendiri dimana tak jarang hal tersebut malah menimbulkan masalah baru akibat kerusakan yang dihasilkannya.

Sebelum Anda benar-benar tersulut dengan ulah mereka, pahami dulu apa arti di balik tantrum yang dilakukan buah hati Anda.

  1. Sikap manipulatif. Tantrum jenis ini dicirikan  dengan perilaku menjengkelkan. Tentunya, harapan anak adalah untuk mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara mengamuk. Namun sebenarnya, itu hanyalah alat saja. Anak tak benar-benar marah atau kecewa karena tak mendapatkannya saat itu.
  2. Ungkapan kekesalan. Biasanya amukan terjadi ketika anak merasa tak bisa melakukan atau mendapat sesuatu seperti keinginannya.
  3. Periksa apakah lapar, sakit atau sedang mengantuk. Anak-anak cenderung mudah marah karena mereka lapar, sakit, mengantuk. Mempelajari penyebab ini tentunya butuh observasi selama beberapa minggu, tidak bisa hanya sehari atau 2 hari saja. Buat catatan-catatan perilaku keseharian anak, dan kemudian pelajarilah catatan tersebut.

Hal yang bisa dilakukan:

Tetapkan aturan dasar
Jika menghadapi anak yang sedang tantrum, pertama-tama Anda jangan terpancing dengan suasana. Tetaplah dengan sikap dan intonasi suara Anda yang tenang. Ketika anak terus berteriak, katakan, “Ayo bicara yang baik sama mama…”. Atau, pergilah ke ruang lain sembari berkata “Kalau sudah bisa bicara yang baik, mama akan ajak kamu bermain…”.  Setelah anak menyadari jika amarah mereka tak mempan, sikapnya akan melunak dengan sendirinya. Jika Anda memang tidak ingin mengabulkan keinginan anak, tetaplah teguh pada pendirian dan jangan ‘terjebak’.  Bila Anda luluh, akan semakin menguatkan pemahaman anak bahwa Anda mudah dipermainkan.

Tunjukkan empati
Ketika ledakan emosi anak memuncak, alih-alih ikut tersulut segeralah tanyakan dalam benak sendiri, “Jika saya berada di posisi Si Kecil, apakah yang saya ingin agar ibu saya lakukan?” Empati yang Anda upayakan ini akan menjadi usaha yang tepat untuk mendapatkan respons positif dari Si Kecil. Ini karena anak yang tengah di luar kendali membutuhkan respons positif orang dewasa yang masih memegang kendali.

Time out
Jika tantrum terjadi di tempat umum seperti supermarket, ajak anak menyingkir dengan membawanya ke mobil. Di sana, suguhi anak alunan musik, dan beri kata-kata yang menenangkan. Sikap Anda akan memberinya dua pesan: amukan tak akan memberikan apa yang diinginkan, dan ibunya akan menolong dirinya mengatasi kekesalan tersebut.

Beberapa anak biasanya bersikeras tak melepaskan kebiasaan menjerit dan berteriak saat melempar tantrum. Saran saja, buat aturan “hanya boleh berteriak di luar ruangan”. Jadi, saat anak mulai berteriak, ajak anak keluar dan biarkan ia melakukannya di luar.

Ubah persoalan jadi peluang
Saat anak mulai tantrum, sebenarnya ini juga peluang bagi para orangtua untuk membangun hubungan orangtua-anak. Melalui penyelesaian kemarahan, anak belajar jika orangtua merupakan tempat mengadu dan mendapatkan solusi atas permasalahannya. Ini juga menjadi dasar dari komunikasi berlandaskan kepercayaan antara orangtua-anak sehingga di lain waktu anak akan lebih mudah mengekspresikan atau mengutarakan apa yang dipikirkannya ketimbang melempar tantrum.

Langkah yg diambil saat tantrum terjadi:

  1. Pegang anak erat-erat (tangan dan kaki) hingga dia tak dapat memukul/menendang dan melakukan hal berbahaya lain.
  2. Jangan ajak anak berkomunikasi hingga anak selesai dengn usahanya untuk memberontak (hal ini termasuk jangan berteriak untuk menyuruh anak berhenti).
  3. Dalam waktu 15-20 menit maka rata2 anak akan merasa letih dan berangsur tenang. Saat itulah anak dapat diajak berbicara.
  4. Jelaskan mengapa kita memegangnya erat2 dan mengapa kita tidak memenuhi permintaannya.
  5. Ajarkan anak bagaimana lain kali ia dapat menunjukkan kemarahannya.

Sudah sejak dulu saya ingin menjadi inspirator di Kelas Inspirasi. Awalnya keinginan itu terbesit saat melihat beberapa rekan saya waktu kuliah mengikuti Indonesia Mengajar. Paham bahwa saya memiliki beberapa batasan dalam mengikuti Indonesia Mengajar, saya pun tidak banyak berusaha untuk mewujudkan keinginan tersebut. Saya kemudian melanjutkan kehidupan dengan melanjutkan pendidikan profesi dan bekerja.

Beberapa tahun kemudian setelah pindah ke Balikpapan, kemudian berkeluarga dan bekerja, saya baru mengetahui bahwa ada Kelas Inspirasi. Berdasarkan informasi yang saya baca dalam webnya (kelasinspirasi.org):

Kelas Inspirasi merupakan solusi bagi para profesional Indonesia yang ingin berkontribusi dengan mengajar di lingkungannya. Hal ini membuka pintu interaksi positif antara kaum profesional dengan sekolah tempat dia berpartisipasi. Partisipasi para profesional tersebut untuk mengambil cuti sehari dan berbagi pengalamannya bersama anak-anak SD, merupakan partisipasi berbasiskan individu, bukan institusi. Ini menunjukkan bahwa kepedulian dan kesadaran pribadi terhadap pendidikan masih tinggi.

Dengan tagline: “Sehari cuti, selamanya menginspirasi”, berhasil membuat saya tergerak kembali untuk mengajar sehari di sebuah sekolah dasar. Saya pun mendaftar dan mengikuti proses menjadi inspirator. Dengan dukungan suami dan anak-anak, saya bisa mengikuti briefing dan meeting Kelas Inspira13934875_10208543549238713_26942071541570464_nsi. Rupanya banyak juga yang perlu dipersiapkan sebelum menginspirasi. Misalnya, mengenal teman-teman sekelompok dengan berbagai profesi yang berbeda. Kemudian pembagian kelas dan tugas. Menyiapkan berbagai perlengkapan untuk mengajar. Menyiapkan perbekalan dan transportasi selama mengajar dan sebagainya. Walaupun begitu, saya merasa senang dalam menjalaninya.

Saya ada di dalam kelompok XI dan mendapat kesempatan menginspirasi di SD Negeri 029 Balikpapan Utara. Saya bersama 8 inspirator lainnya, 2 fasilitator, dan 3 dokumentator. Semuanya sangat kompak dan penuh dengan energi positif. Saya juga merasa memiliki keluarga baru. Kadang kangen untuk berkumpul kembali dan tertawa bersama. Semoga kapan-kapan bisa berkumpul dan berbagi energi positif bersama lagi.

14079609_10208564446721137_1657626043323815001_n

Untuk kegiatan kelompok kami secara keseluruhan dapat dilihat di link berikut ini: Kelas Inspirasi Balikpapan 4, Kelompok XI. Semoga bisa menginspirasi teman-teman lainnya untuk ikut Kelas Inspirasi selanjutnya. Salam 🙂

14021647_10154407277804522_1153997650477720976_n

Kista Periapikal

gr1-sml

Contoh Kista 

Siapa yang suka sakit gigi? Atau bahkan ditemukan adanya kista di mulut? Kayaknya ga ada yang seneng sakit gigi, apalagi didiagnosa kista di bagian mulut. Tapi kalau sudah terlanjur, mau apalagi?

Dari sejak kecil saya sudah berteman akrab dengan dokter gigi. Kenapa? Karena gigi saya sering berlubang. Kenapa gigi saya berlubang? Salah satunya, tidak suka gosok gigi. Salah duanya, suka makanan manis. Salah tiganya, dulu saya minum sufor pake dot sampai umur 5 tahun. Sampai sekarang gigi saya agak maju kedepan, agak kuning, rapuh dan ga sempurna pengunyahannya. Makanya, saya keukeuh banget ga mau ngasih sufor dan dot buat anak saya. Makanya, saya bawel supaya anak-anak sikat gigi. (Dengan gigi seperti itu bukan berarti saya minder lhoo.. pernah sih melalui fase minder, tapi sekarang enggak lagi. Mau tau caranya? Hehehehe.. smoga kapan-kapan bisa nulis tentang membangun Percaya Diri)

Jadi, balik lagi.. setelah sekian lama saya menghindar dari dokter gigi (setelah kuliah, menikah, punya anak dua). Berharap ga ada masalah lagi sama gigi saya, eh.. ga taunya saya diberi ujian dan kesempatan buat akrab lagi sama dokter gigi. Akrab yang pertama adalah ke drg spesialis konservasi gigi karena saya harus pasang crown gigi. Akrab yang kedua adalah ke drg spesialis konservasi gigi dan bedah mulut karena diagnosis awal adalah abses gigi kemudian berkembang menjadi kista.

Gimana sih kok bisa ada kista di bagian mulut? Padahal banyak orang hanya tahu bahwa kista ada di rahim atau organ dalam lainnya. Kista yang saya alami adalah kista periapikal, yaitu kista yang terbentuk pada ujung akar gigi yang jaringan pulpanya (sarafnya) sudah mati, yang merupakan kelanjutan dari peradangan pada jaringan pulpa gigi (pulpitis).

Penyebab*
Kista periapikal merupakan perkembangan lebih lanjut dari infeksi gigi karena caries (gigi berlubang). Apabila gigi yang berlubang dibiarkan terus menerus, maka akan menyebabkan peradangan pada jaringan pulpa gigi (pulpitis) kemudian terjadi kematian saraf pada gigi tersebut. Setelah gigi nonvital (mati) lama kelamaan akan dapat terbentuk kista periapikal pada ujung akar gigi tersebut.

Gejala*
Kista periapikal umumnya tidak menimbulkan keluhan atau rasa sakit, kecuali jika terjadi infeksi pada kista tersebut (infeksi sekunder).

Perawatan*
Terdapat beberapa pilihan perawatan pada kista ini, antara lain:

1. Perawatan endodontik (perawatan saraf gigi)
Apabila kista yang terbentuk belum terlalu besar atau belum parah, masih dapat dilakukan perawatan endodontik. Jika perawatan ini dilakukan, maka perlu dilakukan rontgen gigi secara periodik untuk mengecek penyembuhan dari kista tersebut.

2. Pengambilan kista
Perawatan ini paling sering dilakukan untuk menangani kista periapikal, karena apabila dengan perawatan endodontik penyembuhannya belum tentu berhasil. Pengambilan kista ini kadang juga disertai pengambilan gigi yang terlibat.

Berdasarkan keterangan tersebut, kista yang saya alami jelas karena gigi berlubang. Saya sudah mengalami infeksi sekunder yang rasa nyut-nyutan bisa membuat ga bisa tidur semalaman. Awalnya saya ke drg konservasi utk perawatan saraf gigi, tapi sepertinya tidak mengecil. Jadi harus dioperasi.

Hanya saja, saya perlu bersyukur tidak perlu cabut gigi. Kebetulan gigi yang terkena kista adalah gigi depan dan drg. bedah mulutnya mau mencarikan alternatif supaya tidak perlu cabut gigi.

Operasi yang dilakukan sebenarnya operasi kecil dan perlu dilakukan bius total agar pasien lebih tenang. Hanya saja waktu saya mau operasi, dokter anastesinya sedang berhalangan. Jadi akhirnya, hanya bius lokal. Rasanya takut dan khawatir selama operasi karena ngerasain disuntik, denger bagaimana rahang atas dibedah, disedot nanahnya, diberi tulang sintetis, dan dijahit kembali. Bahkan ketika disedot nanahnya, bius lokal tidak bisa mengurangi rasa sakitnya. Mungkin kenapa akan jauh lebih baik jika bius total.

Sisi baiknya tidak bius total adalah saya tidak perlu menunggu waktu sadar. Karena setelah selesai operasi, saya bisa langsung makan minum dan pulang ke rumah. Paling nyut-nyutan sedikit yang bisa dibantu dengan obat pengurang nyeri. Setelah itu minum antibiotik.

Hari ini, jahitan di rahang atas diambil. Alhamdulillah tidak ada masalah yang berarti dan tidak sakit lagi. Saya janji ke drg. lebih sering buat kontrol gigi dan menjaga kebersihan gigi saya supaya tetap kuat sampai akhir usia.

 

Sumber *: MayoClinic, West Indian Medical Journal, Journal of Medical

Memilih sekolah

thK9DRBIHITiap keluarga memiliki nilai-nilai yang berbeda untuk mengasuh anak, termasuk memilih sekolah yang terbaik untuk anak. Saya beri garis bawah untuk sekolah terbaik karena satu sekolah belum tentu sesuai untuk semua keluarga. Kesesuaian bisa dilihat dari biaya sekolah, lokasi, nilai-nilai yang ditanamkan, metode pengajaran, pengaturan jumlah guru, manajemen sekolah, dan lain-lain. Apapun pilihan sekolahnya, saya yakin orang tua berusaha mencari sekolah dengan nilai-nilai yang positif sesuai kondisi keluarga.

Saya sendiri berusaha memilihkan sekolah yang terbaik untuk anak saya. Namun sebelumnya mungkin ada pertanyaan, kenapa tidak homeschooling saja? Meski saya sudah mengikuti seminar homeschooling, saya sendiri masih belum bisa berkomitmen untuk homeschooling, saya masih memilih sekolah sebagai partner mendidik anak. Akhirnya anak saya yang pertama bertahan tidak masuk sekolah hingga usia 4 tahun, dari target usia 5 tahun baru akan sekolah. Berdasarkan usia, ia masuk TK. Mungkin ada pertanyaan lainnya, mengapa tidak masuk Kelompok Bermain atau play group? Kembali lagi karena targetnya tidak sekolah hingga usia 5 tahun. Hehehe.

Menurut teori-teori Psikologi, 5 tahun pertama kehidupan anak adalah masa paling berharga. Masa dimana orang tua perlu memasukkan banyak nilai kebaikan. Masa dimana orang tua perlu memberi landasan dan menjalin kedekatan dengan anak. Jika anak sudah masuk sekolah, maka nilai-nilai lingkungan akan lebih cepat masuk. Jika nilai-nilai lingkungannya bagus sih tidak apa-apa. Jika nilai-nilai di lingkungan sekitar lebih banyak yang buruk, saya secara pribadi akan memilih menunda untuk sekolah. Lagi pula, sekolah untuk anak balita biasanya lebih banyak penanaman kemandirian. Hal yang bisa dilakukan oleh ibunya di rumah. Bagaimana dengan sosialisasi? Saya tidak begitu khawatir dengan sosialisasi karena bergabung dengan komunitas dan memiliki tetangga yang punya anak kecil.

Kembali lagi ke pilihan sekolah, hal-hal apa yang saya perhatikan ketika menyekolahkan anak. Pertama, aspek agama. Kembali lagi, aspek pertama ini adalah kesepakatan suami-istri atau orang tua. Dengan latar belakang suami yang pernah sekolah di pesantren, ia memiliki alasan yang lebih besar untuk memasukkan anaknya ke sekolah Islam. Lalu, alasan saya apa? Saya ingin anak saya sejak kecil sudah terbiasa dengan nilai-nilai Islam. Berbeda dengan saya yang dibesarkan dalam suasana heterogen dan baru intens belajar Islam ketika SMA. Tentu lebih sulit belajar ketika sudah besar, jika dibandingkan sejak dini.

Lalu hal kedua yang saya pertimbangkan adalah metode pembelajaran. Saya memiliki pengalaman traumatis dengan sistem pendidikan di Indonesia yang menentukan anak pintar atau tidak dari kemampuan membaca, menghapal, dan berhitung. Karena saya dulu sekolah dalam usia yang terlalu muda, yaitu 3 tahun, saya menjadi malas belajar ketika SD, SMP dan SMA. Entah bagaimana saya bisa melalui hari demi hari untuk pergi sekolah. Karena saya memang tidak berminat untuk sekolah, terutama pelajaran IPA dan Matematika. Beberapa kali ditegur guru karena tampak tidak fokus belajar. Saya baru termotivasi untuk belajar ketika mau masuk perguruan tinggi dan tentu selama kuliah. Menurut saya, kuliah adalah waktu dimana saya benar-benar menikmati belajar. Oleh karena itu, saya tidak mau hal yang sama terulang pada anak. Saya ingin ia bisa menikmati sekolah sejak dini. Kalaupun nanti ada hal tidak menyenangkan, setidaknya tidak terjadi pada usia dini. Saya ingin anak saya bisa menikmati pelajaran sains dan matematika karena sebenarnya hal tersebut bisa saja jadi menarik jika diberikan dengan cara yang menarik pula. Saya juga tidak ingin anak saya dianggap baru belajar jika sudah masuk kamar, duduk di kursi dan buka buku. Karena belajar bisa dilakukan sambil bermain dan melakukan eksperimen. Kemudian, anak yang pintar dan sukses di sekolah belum tentu bisa sukses di dunia kerja atau usaha. Saya tidak ingin anak saya dinilai dari nilai akademik saja. Karena hal yang tampil pada anak-anak saya, mereka memiliki kreativitas dan tampak aktif bersosialisasi.

Aspek ketiga adalah biaya sekolah. Biaya sekolah terutama sekolah Islam biasanya agak mahal jika dibandingkan dengan sekolah yang di subsidi pemerintah. Perlu disadari biaya sekolah mahal juga tidak menjamin anak sukses. Karena suksesnya anak adalah kerja sama orang tua dan sekolah. Jadi mengapa saya berani bayar mahal? Kembali lagi ke nilai-nilai yang ingin saya tanamkan pada anak. Di tengah kepungan informasi dan lingkungan yang kurang kondusif saat ini, saya berusaha mencari lingkungan yang kondusif bagi anak saya. Kalaupun saya tidak bekerja dan tidak memiliki banyak biaya, saya tetap mencarikan lingkungan yang kondusif bagaimanapun caranya.

Lokasi adalah hal keempat yang menjadi pertimbangan. Saya dan suami berusaha mengantar-menjemput anak sendiri. Jadi, tentu kami memilih yang paling dekat dan minim hambatan. Kebetulan sekolah anak saya saat ini satu arah dengan kantor suami, jadi pagi diantar suami. Saya bisa saja memakai jemputan, tetapi ada kepuasan tersendiri jika bisa menjemput anak.

Keamanan adalah hal kelima dan kenyamanan adalah hal terakhir yang perlu saya pertimbangkan untuk memasukkan sekolah anak. Alhamdulillah, sekolah anak saya memikirkan tentang keamanan seorang anak, mulai dari diantar hingga dijemput kembali oleh orang tua. Kenyamanan dalam aspek ini bukan berarti sekolah yang ber AC atau anak-anak yang dimanjakan. Akan tetapi, kenyamanan dengan lingkungan sekolah yang rindang, banyak pohon. Dekat dengan para guru dan satpam. Dekat juga dengan orang tua murid yang lain. Saya tidak masalah jika ada parenting untuk orang tua atau ada tugas untuk orang tua, karena dari sana saya belajar menjadi orang tua yang lebih baik lagi.